Selasa, 24 Juli 2007

SURAT KEPUTUSAN HIMATIKA FMIPA UNAND

Nomor : 0 /A/SK/SU/HIMATIKA X /IV/07
Tanggal : 2007

TIM KONSEPTOR BWMBM 2007


Steering Committee : Ramadhanil
Afriandi
Ade Ayu Rahmadani Nst
Medi Prasetia


Organize Committee :
Koordinator : Medi Prasetia
Anggota : ?????????? 2003+
?????????? 2003+
Jubet Putriyani
Primawati
Astri Maylisa
????????? 2005
Rice Amelia
Edi Kurniawan ?????

DRAFT KEGIATAN BINA WAWASAN MAHASISWA BARU MATEMATIKA ANGKATAN 2007 (BWMBM 2007)

Disusun oleh
Divisi Pembinaan Mahasiswa Baru
Bidang Pembinaan Aparat dan Anggota
HIMATIKA 2007/2008
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS


I. FORMAT KEGIATAN BINA WAWASAN MAHASISWA BARU 2007

Kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007 (BWMBM 2007) dilaksanakan dengan format


II. KOMPOSISI KOMPONEN PELAKSANA

1. Dekanat
Memberikan persetujuan secara resmi diadakannya kegiatan dan berkoordinasi dengan Jurusan Matematika dan HIMATIKA dalam mengawasi kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007
2. Jurusan
Memberikan persetujuan secara resmi diadakannya kegiatan dan berkoordinasi dengan HIMATIKA dalam mengawasi kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007
3. Pengurus HIMATIKA 2007/2008
Menetapkan konsep acara pelantikan yang telah disepakati bersama dalam rapat presidium, sebagai penanggung jawab kegiatan yang telah disepakati serta membentuk dan membubarkan panitia.
4. Tim Instruktur
Penggerak keseluruhan acara yang berkoordinasi dengan panitia dan tim konseptor. Tim ini terdiri dari anggota HIMATIKA yang dipilih oleh panitia BWMBM, Tim Konseptor dan pengurus HIMATIKA 2007/2008 yang merupakan perwakilan dari tiap angkatan mahasiswa MATEMATIKA
5. Tim Konseptor
Penggagas dan penyusun sitematika dan tekhis acara BWMBM. Tim ini terdiri dari 2 orang perwakilan dari tiap angkatan mahasiswa Matematika dan beberapa orang yang dipercayakan sebagai Tim Konseptor oleh pengurus HIMATIKA 2007/2008 yang di koordinatori oleh divisi Pembinaan Mahasiswa Baru
6. Komisi disiplin
Terdiri dari perwakilan mahasiswa matematika angkatan 2003+ dan 2004 yang dipilih dalam rapat beserta anggota HIMATIKA yang merupakan pengawas kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007 serta memberikan peringatan dan sanksi jika terjadi hal dan kegiatan di luar konsep yang diberikan pengurus HIMATIKA 2007/2008
7. Panitia Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007
a. SC
Merupakan panitia pengarah yang terdiri dari mahasiswa Matematika angkatan 2004 yang bertugas membantu panitia pelaksana dalam menjalankan kegiatan sesuai konsep yang diberikan oleh pengurus HIMATIKA 2007/2008
b. OC
Merupakan panitia pelaksana yang terdiri dari mahasiswa Matematika angkatan 2005 dan 2006 yang bertugas sebagai fasilitator kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007
yang menjalankan kegiatan sesuai dengan konsep yang diberikan oleh pengurus HIMATIKA 2007/2008
8. Anggota HIMATIKA
Merupakan mahasiswa Matematika yang ikut serta menjalankan kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007 sesuai konsep dan bekerja sama dengan panitia demi kelancaran acara.
9. Mahasiswa baru Matematika angkatan 2007
Sebagai peserta kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007


III. TATA TERTIB PELAKSANAAN KEGIATAN BWMBM 2007

1. Mempunyai format
2. Disetujui secara tertulis oleh Dekanat (dalam hal ini di wakilkan oleh PD III )
3. Disetujui secara tertulis oleh Jurusan (dalam hal ini di wakilkan oleh Ketua Jurusan Matematika)
4. Disetujui secara tertulis oleh Ketua HIMATIKA 2007/2008
5. Menjaga nama baik HIMATIKA FMIPA Universitas Andalas
6. Adanya koordinasi yang jelas antar setiap komponen pelaksana
7. Setiap komponen pelaksana melaksanakan perannya masing-masing dengan baik
8. Tidak melakukan tindakan kekerasan, kriminal dan tindakan yang bersifat mempermalukan serta merusak kreatifitas dan fisik
9. Tidak ada perbuatan yang bersifat mengganggu pelaksanaan dan makna acara
10. Tidak ada unsur paksaan


IV. PELANGGARAN DAN SANKSI

1. Anggota dan panitia
Pelanggaran : - Bertindak diluar konsep
- Tidak mau mendukung jalannya kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007 serta tidak mau bekerja sama pada saat pelaksanaan kegiatan
Sanksi : - Teguran dan tindakan perbaikan oleh komisi disiplin
- Jika OC melakukan pelanggaran di atas maka acara diserahkan kepada Pengurus HIMATIKA 2007/2008
2. Peserta
Pelanggaran : - Tidak mematuhi tata tertib kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007
Sanksi : - Tindakan perbaikan dari OC kegiatan Bina Wawasan Mahasiswa Baru 2007



V. BENTUK KEGIATAN BWMBM 2007

1. Tahap pendataan
2. Tahap intelegensi
3. Tahap penempaan mental
4. Tahap pencarian bakat
5. Tahap kebersamaan
6. Tahap follow up

VI. POLA PELAKSANAAN KEGIATAN BWMBM 2007
























VII. TAHAP-TAHAP KEGIATAN BWMBM 2007

1. Tahap Pendataan
a. Pendataan jumlah peserta
b. Pendataan izin peserta
c. Pendataan data pribadi peserta
d. Absensi
2. Tahap Inteligensi
a. Materi
b. Aplikasi lapangan
c. Simulasi aktif dan pasif
3. Tahap Penempaan Mental
a. Materi
b. Aplikasi lapangan
c. Simulasi aktif dan pasif
d. Kegiatan penempaan mental
4. Tahap Pencarian Bakat
a. Simulasi aktif dan pasif
b. Wawancara
c. Tes
d. Pengisian angket minat
5. Tahap Kebersamaan
a. Pengenalan angkatan
b. Penampilan bakat
6. Tahap Follow Up
a. Pelatihan
b. Pelantikan

VIII. LAIN-LAIN

1. Catatan

a. Tim instruktur, Tim konseptor dan panitia berkoordinasi secara kontinu dalam format acara BWMBM 2007
b. BWMBM 2007 melibatkan seluruh komponen pelaksana tanpa terkecuali
c. Jika ada komponen pelaksana yang melanggar tata tertib kegiatan BWMBM maka diberikan sanksi secara tegas
d. Tim Konseptor dan Panitia di SK kan secara terpisah dan memiliki posisi yang sama

2. Target waktu

Target waktu pelaksanaan kegiatan BWMBM 2007 yang diberikan
pengurus HIMATIKA kepada panitia adalah dalam rentang waktu awal September? hingga akhir desember? 2007

Lampiran SURAT KEPUTUSAN HIMATIKA FMIPA UNAND Nomor : 00 /A/SK/SU/HIMATIKA X /IV/07

Steering Committee : Ramadhanil
Afriandi
Ade Ayu Rahmadani Nst
Medi Prasetia

Organize Committee :
Ketua : Berkah Fajar/Medi Prasetia???????????
Sekretaris : Marvita Sari
Bendahara : Ulya Fajrina

Seksi Kesekretariatan
Koordinator : Rita Dwi Yulianti
Anggota : Mega Paramita Sari
Ilfa Sthefani
Fitri Anita
Nurul Siregar



Seksi Dana
Koordinator : Efriyanti
Anggota : Edi Kurniawan




Seksi perlengkapan dan Dekorasi
Koordinator : Irfan santriadi
Anggota : Johndesi
Efriyenti



Seksi Humas dan Dokumentasi
Koordinator : Santrinaldi
Anggota : Ria Desnita
Nurfitriani
Yogi



Seksi Konsumsi
Koordinator : Hikmah Permata Sari
Anggota : Sherly Al Varika





Seksi Acara
Koordinator : Berkah Fajar/Zulfi/Fajar Wisga
Anggota : Ricky Nurman
Astri Maylisa
Isna
Akhiruddin
Mega Prista Dewi
Septri Damayanti
Meki

Senin, 23 Juli 2007

SURAH AL-ASHR

“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (3)





Apakah Iman Itu ?

Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.

Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.

Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.



Amal Saleh

Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.

Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.

Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.



Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar

Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.

Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.



Kepemimpinan Kaum Muslimin

Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….

Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.

Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….

Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.



* * *



Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.

SURAH AL-ASHR

“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (3)





Apakah Iman Itu ?

Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.

Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.

Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.



Amal Saleh

Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.

Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.

Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.



Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar

Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.

Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.



Kepemimpinan Kaum Muslimin

Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….

Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.

Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….

Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.



* * *



Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.

SURAH AL-ASHR

“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (3)





Apakah Iman Itu ?

Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.

Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.

Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.



Amal Saleh

Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.

Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.

Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.



Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar

Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.

Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.



Kepemimpinan Kaum Muslimin

Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….

Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.

Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….

Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.



* * *



Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.

Hegemoni Kristen-Barat, dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi

Selama ini kita mengenal istilah manajemen itu dalam istilah business management, kemudian marketing management atau mungkin Human Resources Development Management atau mungkin finance management.

Sekarang saya akan memperkenalkan pada Anda apa yang disebut dengan mind management, manajemen pikiran.

Kenapa saya ambil judul seperti itu? Karena saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang mengatakan bahwa Allah mengikuti sangkaan seorang hamba terhadap-Nya. Jadi, ketika kita berpikir positif, maka itulah yang akan Allah kirimkan kepada kita. Ketika seorang menganggap dirinya berhasil, menggangap dirinya gagal, menganggap dirinya kecewa, atau menganggap dirinya susah, maka Tuhan akan mengirimkan pikiran itu kepada dirinya. If you think you can, you can. If you can not, you can not. Kalau Anda berpikir bisa, Anda pasti bisa. Tapi, kalau Anda berpikir sudah tidak bisa, maka Anda tidak akan bisa. Tuhan akan menakdirkan Anda tidak bisa. Maka, mulailah cara berpikir kita yang positif sehingga Allah akan mengirimkan kepada Anda pikiran yang positif, mind management.

Para insan sejati, di dalam kehidupan mungkin Anda pernah mengalami apa yang saya sebut dengan istilah 4L: Letih, Lesu, Loyo, Lemah. Bukan hanya secara pikiran, bukan hanya secara batin, tapi juga secara fisik. Bisa secara fisik, bisa secara mental, bisa secara spiritual. Maka, kita perlu yang namanya physical fitness, mental fitness, dan spiritual fitness. Tapi, di bagian pengantar ini saya akan fokus membahas kenapa di dalam diri kita ada yang namanya 4L tadi. Kenapa itu masuk ke dalam diri kita? Menyerang kehidupan kita? Bahkan, ini tidak terjadi secara individu saja, tetapi secara konteks masyarakat pun terjadi.

Ada ketidaksemangatan dalam hidup. Kita akan melihat di sini kenapa kita menjadi tidak punya kekuatan dalam hidup ini. Why do become powerless. Kita punya power, tapi kenapa hari ini kita merasa tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita? Kita tidak bisa memecahkan masalah, bahkan masalah itu terasa lebih besar dibandingkan kemampuan kita. Kenapa ini terjadi? Itu karena powerless. Kekuatan kita tidak muncul.

Saya mengajak Anda untuk mengenal darimana powerless ini muncul, darimana kekuatan-kekuatan yang berkurang ini muncul, kenapa kita menjadi powerless dalam kehidupan kita. Apa hambatan-hambatan yang dialami oleh seseorang sehingga dirinya menjadi powerless? Apa yang menyebabkan 4L itu bisa datang? Ada 4 penyebab: 2 penyebab yang datang dari dalam diri kita sendiri, dan 2 penyebab yang datang dari luar. Ada penyebab secara internal dan ada penyebab secara eksternal.

Penyebab secara internal, pertama, adalah apa yang disebut dengan bad self image, ada satu citra diri yang negatif. Tanpa disadari oleh kita, setelah kita berpuluh-puluh tahun menjalani hidup ini, tanpa terasa di dalam kehidupan kita dihinggapi oleh apa yang disebut bad self image. Ternyata image itu bukan hanya untuk perusahaan saja, diri kita juga perlu brand image, perlu citra. Setiap orang perlu citra. Tapi, kalau citra yang sudah terbentuk dalam diri kita adalah negatif, akan sulit buat kita untuk maju ke depan.

Bad self image ini muncul dari lingkungan yang paling dekat dengan Anda, keluarga, ini yang paling dominan. Berdasarkan suatu penelitian, yang bisa mengubah dan menciptakan image seseorang adalah dari kehidupan di rumah Anda. The first school is at home and the first teacher is mother ‘sekolah pertama untuk Anda itu adalah di rumah dan guru pertama yang paling baik itu adalah ibu Anda sendiri di rumah’. Keluarga inilah yang akan membentuk brand image ini positif atau negatif.

Para insan sejati, pernahkah Anda mengalami satu situasi ketika Anda masih sekolah di SD lalu Anda mendapatkan rapor dan Anda pada waktu itu agak kaget karena dari rapor Anda banyak yang merah dibandingkan yang bukan merah kemudian Anda mendapat ranking di bawah 20. Anda malu untuk menyerahkan rapor ini kepada orang tua Anda. Akhirnya Anda terpaksa menyerahkan. Apa ekspresi wajah orang tua Anda ketika melihat rapor Anda itu jelek? Tanpa disadari muncullah kata-kata, “Memang kamu ini orang yang bodoh, kamu tuh tidak pintar, tidak seperti kakak kamu.” Masuklah kata-kata tadi ke dalam pikiran kita dan itu terjadi berulang-ulang dalam kehidupan Anda, “You are stupid, Anda bodoh. Anda tidak pintar, Anda goblok,” dan segala macam bentuk istilah-istilah yang lain. Dan, istilah yang lebih kasar daripada itu masuk ke dalam pikiran Anda. Lalu, tanpa sadar itu membentuk satu rekaman yang sangat luar biasa di dalam otak Anda. Akhirnya, ketika Anda menjadi dewasa, Anda punya satu label, maaf, seolah-olah di atas jidat Anda tertulis kata-kata, “I am a stupid, saya adalah orang yang bodoh, saya adalah orang yang tidak pandai.” Ketika Anda berusaha untuk pintar atau maju, maka Anda selalu dihinggapi oleh perasaan, “I am stupid, saya adalah orang yang bodoh.” Itu yang saya maksud dengan bad self image.

Kalau sebuah perusahaan mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk memperbaiki citra merek perusahaan, how to create brand image, bagaimana menciptakan brand image sebuah perusahaan. Saya punya beberapa kawan yang menjadi konsultan di bidang brand image, nilai proyeknya luar biasa. Ada yang 10 miliar, ada yang 20 miliar, hanya untuk mengubah logo atau untuk mengubah semboyan. Hanya untuk mengubah moto atau warna, mereka habiskan dana yang cukup besar. Tapi, apakah Anda terpikir untuk mengeluarkan selain dana, melainkan pikiran dan waktu Anda untuk mengubah self image Anda yang sudah negatif tadi? Pernahkah kita terpikir untuk investasikan waktu kita, tenaga kita, dan pikiran kita untuk mengubah image kita yang negatif di mata orang atau di mata kita sendiri?

Ini hal pertama yang menyebabkan Anda bisa mengalami lesu, letih, loyo, lemah dan sebagainya. Karena bad self image, ada citra diri yang negatif. Kita harus jauhi citra diri yang negative. Marilah kita bangun dengan self image yang positif. Itu yang pertama.

Kita lihat yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience, pengalaman buruk atau dalam dunia psikologi disebut dengan traumatic syndrome. Pernah Anda mengalami traumatic syndrome? Mungkin ada beberapa contoh kasus yang bisa saya sampaikan di sini. Salah satunya apa yang disebut dengan istilah, maaf, sexual harrasment atau sexual abussment. Pernah Anda membaca sebuah berita atau artikel di satu koran atau majalah, seorang anak gadis, maaf, diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Ketika dewasa mungkin ia akan mengalami apa yang disebut dengan traumatic syndrome. Dia merasa dirinya sudah tidak punya nilai apa-apa, “Apalah artinya saya, saya pernah mengalami sexual harassment atau sexual abussment dari orang tua saya, dari ayah kandungnya sendiri.”

Setiap orang pasti mendapatkan musibah, tinggal bagaimana kita menilai peristiwa itu, positif atau negatif, karena Tuhan berfirman dalam surah Ali Imran ayat 191, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, dan selamatkanlah kami dari api neraka.” Apa pun musibah yang menimpa kita, walaupun kita tidak siap menerima musibah itu, pada dasarnya itu tidak ada yang sia-sia, semua itu ada manfaatnya, ada hikmahnya. Kata orang bijak, ada hikmah di balik itu semua.

Jadi itu yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience. Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah anak Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah pasangan hidup Anda mengalami pengalaman buruk seperti itu? Kalau iya, itu akan menyebabkan 4L tadi: Letih, Lesu, Loyo, dan Lemah. Karena bad experience tadi, pengalaman buruk menimpa Anda. Dan, bentuknya pada setiap orang itu berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi, tergantung bagaimana Allah memberikan kepada dia, Karena Allah selalu mempunyai satu skenario yang beraneka ragam pada setiap manusia, that’s a miracle of life, itulah misteri kehidupan, itu hal yang sangat luar biasa.

Kita masuk kepada penyebab yang ketiga dari 4L tadi. Bad partner. Ketika Anda salah memilih teman, Anda salah memilih pasangan, maka ini akan mengakibatkan Anda mengalami powerless. Ada satu ungkapan seorang filsuf, “Sebutkan teman-teman Anda, saya akan tebak siapa diri Anda.” Ketika Anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa diri Anda sebenarnya. Kalau Anda terbiasa berteman dengan teman-teman yang negatif, maka Anda akan menjadi negatif juga. Ketika Anda biasa berteman dengan yang positif, maka Anda pun akan berpikir positif juga. Ini bisa menjadi penyebab Anda untuk mengalami powerless tadi, bad partner, Anda tidak pandai memilih teman.

Para insan sejati, di dalam salah satu nasihat nabi kita Muhammad saw., ada satu parameter yang membantu kita untuk bisa memilih teman yang baik itu seperti apa sih sebenarnya. Teman di sini maksudnya luas, bisa teman kehidupan, cara memilih suami atau istri. Atau teman dalam arti orang kepercayaan, kalau Anda seorang pimpinan maka Anda perlu orang kepercayaan. Bisa bermacam-macam bentuknya. Nabi Muhammad saw. memberi satu patokan bagaimana memilih teman yang baik. Kata beliau, ketika kita sudah ingin memilih seorang teman, maka engkau harus melihat pada 3 aspek. Yang pertama, sudahkah Anda bermalam di rumahnya, dalam arti positif tentu saja. Karena setiap orang itu akan berbeda penampilannya pada saat di luar rumah dan di dalam rumah. Yang kedua kata Nabi, sudahkah engkau musafir (bepergian jauh) bersamanya. Yang ketiga, sudahkah Anda mengadakan transaksi bisnis bersama dia, sudahkah Anda melakukan muamalah dengan dia. Banyak orang yang jujur dalam keseharian, tetapi begitu bicara masalah bisnis atau uang, kadang-kadang perubahan sikap itu akan terjadi.

Oke, kita lihat penyebab yang keempat dari 4L yakni bad environment, lingkungan yang buruk, al-biah assayyiah. Para insan sejati, tidak cukup hanya sekadar teman yang baik, kita membutuhkan sebuah komunitas. Katakanlah Anda sekarang memiliki satu motivasi yang kuat untuk maju, Anda optimis, Anda positive thinking, tapi kalau Anda berada dalam satu lingkungan yang negatif, lama-lama Anda akan mengalami satu kontaminasi, nilai-nilai kebaikan Anda akan luntur dan hilang. Kenapa? Terlalu banyak dominansi lingkungan terhadap diri Anda. Atau sebaliknya, kalau kita berada dalam lingkungan yang positif, walaupun kita awalnya negatif, masuk ke dalam lingkungan yang positif, kita akan terkontaminasi yang positif juga, kita akan tertular yang positif juga.

Jadi, pemilihan lingkungan sangat penting sekali. Itulah sebabnya di dalam Islam ada yang namanya konsep hijrah. Saya memahami hijrah ini bukan hanya satu aspek, tapi bagaimana kita melihat hijrah ini dalam 2 aspek. Hijrah secara fisik dan hijrah secara mental. Kita tidak hanya perlu hijrah secara fisik, tapi juga hijrah secara mental.

Untuk menjadi baik tidak cukup hanya sekadar perubahan secara spiritual, tapi kita juga harus memilih lingkungan yang baik, pilihkan anak-anak kita dengan lingkungan yang baik, sekolah yang baik, tempat tinggal yang baik, pilihkan suami atau istri kita dengan lingkungan rumah tangga yang baik. Kita bentuk suasana rumah tangga itu rumah tangga yang ideal. Pilihlah untuk masyarakat kita suatu komunitas yang baik, pilihlah untuk rakyat kita lingkungan bangsa yang baik. Kalau semua sudah dibingkai dengan lingkungan yang baik, maka insya Allah kita tidak akan terjebak terhadap penyebab terjadinya 4L (Letih, Lesu, Lelah, dan Lemah) seperti bad partner, bad self image, bad experience, dan traumatic syndrome.

Para insan sejati, saya akhiri pembahasan masalah ini dengan pepatah Nothing is impossible, everything is possible if you believe in Allah. Tidak ada yang mustahil di muka bumi ini kalau Anda percaya kepada Allah.*