Senin, 23 Juli 2007

Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an

Al-Qur`anul Karim telah mempersembahkan kepada kita—dalam rangkaian kisah para nabi dan wali—sekumpulan kisah hewan yang memainkan peran penting dalam sejarah. Ada burung gagak yang diutus Allah kepada anak Nabi Adam untuk memeragakan bagaimana cara menguburkan mayat saudaranya, ada burung merpati yang disembelih Nabi Ibrahim lalu dipisah-pisah di puncak bukit, kemudian burung-burung itu dibangkitkan Allah dari kematian. Ada sapi Bani Israel yang disuruh oleh Nabi Musa untuk disembelih dalam mengungkap sebuah misteri pembunuhan, ada serigala yang dituduh secara zalim telah menerkam Nabi Yusuf, ada hud-hud Nabi Sulaiman yang memberikan informasi tentang Ratu Balqis, ada rayap tanah yang memakan tongkat Nabi Sulaiman ketika beliau meninggal di singgasananya, sehingga beliau jatuh tersungkur ke tanah. Ada keledai Nabi Uzair yang Allah matikan selama seratus tahun kemudian dibangkitkan kembali di hadapan pemiliknya. Ada ikan paus yang menelan Nabi Yunus selama beberapa hari lalu dilemparkannya tubuh sang Nabi ke daratan karena ia termasuk orang yang selalu bertasbih. Ada anjing ashhabul kahfi yang tidur bersama mereka selama tiga ratus sembilan tahun. Ada semut Nabi Sulaiman yang menyeru semut-semut lainnya untuk masuk ke sarang masing-masing agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan balatentaranya sementara mereka tidak menyadarinya. Ada gajah Abrahah yang ditugaskan untuk menghancurkan Ka'bah, kemudian ia dihinggapi rasa takut kepada Allah sehingga ia tidak mau beranjak dari posisinya.

Kisah hewan-hewan itu telah disebutkan di dalam Al-Qur`an bersama kisah-kisah hewan lainnya yang pada lahirnya adalah burung, binatang buas, atau tumbuh-tumbuhan, tapi pada hakikatnya adalah satu tanda dari sekian banyak tanda kebesaran Allah. Seperti tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar, tanah Nabi Isa yang dibuat seperti burung lalu ditiupnya lalu ia berubah menjadi burung sungguhan dengan izin Allah dan burung Ababil yang diutus Allah kepada tentara bergajah lalu melempari mereka dengan batu-batu yang telah dibakar.

Semua kisah ini disebutkan dalam Al-Qur`an. Ada juga kisah hewan yang disebutkan dalam hadits-hadits sahih, seperti laba-laba gua yang membuat sarang di mulut gua tempat Rasulullah saw. bersembunyi.

Kita berada di hadapan kumpulan kerajaan hewan yang memainkan peranan penting dalam kehidupan. Mereka muncul dalam peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut di saat itu saja lalu lenyap ditelan masa. Al-Qur`an hanya menyebutkannya secara selintas, menceritakan satu atau lebih dari peristiwa kehidupannya dalam saat-saat tertentu kemudian sosok mereka tenggelam seiring perjalanan waktu.

Bahasa Para Hewan
Al-Qur`an datang dengan nash-nash yang jelas membuktikan bahwa binatang mempunyai bahasa dan ide-ide tersendiri. Perhatikan apa yang dikatakan seekor semut ketika memperingatkan semut-semut lainnya agar menjauh dari Nabi Sulaiman dan balatentaranya. Seekor semut berkata, ”Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan tentaranya sementara mereka tidak menyadarinya...”

Semut itu tidak tahu kalau Sulaiman mengerti bahasanya. Ia tidak mengetahui kalau Sulaiman mendengarkannya ketika ia menyangka bahwa tentara Sulaiman akan membinasakan para semut tanpa sadar.

Semut itu menggunakan dalam ungkapannya kata-kata “menyadari”. Ini sebuah bukti bahwa perasaan adalah sesuatu yang juga dikenal oleh para semut, karena kalau tidak, bagaimana mungkin ia menggunakan dalam bahasanya sesuatu yang tidak ia kenal atau ketahui?

Lalu, coba perhatikan perbincangan antara hud-hud dengan Sulaiman.

Hud-hud telah menyatakan pada Sulaiman sesuatu yang belum pernah diucapkan oleh filsuf manusia terbesar sekalipun di muka bumi ini. Hud-hud tidak heran melihat kaum Saba` sujud pada matahari padahal matahari itu telah ditundukkan untuk mereka, lalu ia bertanya pada Sulaiman penuh heran mengapa mereka tidak bersujud kepada Allah yang telah mengeluarkan biji-bijian di langit dan di bumi.

Apa yang diungkapkan oleh Al-Qur`an empat belas abad silam ini, yakni ilmu senantiasa berusaha mengungkap bagian dari rahasia-rahasianya, adalah sebuah mukjizat yang membuktikan bahwa Al-Qur`an adalah wahyu dari Allah. Sebagaimana ia juga membuktikan bahwa kaum muslimin terdahulu mempunyai iman yang sangat kokoh dan dalam karena pemikiran yang berkembang pada masa mereka adalah binatang tidak bisa berbicara, merasakan, menyadari dan memahami, kemudian Al-Qur`an datang mengatakan sebaliknya tapi mereka tetap beriman dan tidak ragu. Mereka langsung memercayai semua itu tanpa perlu meminta bukti ilmiah atau membahasnya lebih lanjut.

Hikmah Dari Kisah Hewan

Buku ini pada asalnya adalah buku seni dan pola utamanya adalah seni dalam arti kreasi, daya khayal, dan inovasi. Namun pola utama ini berbaur dengan dua pola lainnya, yaitu pola agama dan ilmu.

Pola agama akan tampak pada kisah nabi, yakni binatang menjadi pelayannya. Bagian ini diambil dari Al-Qur`an -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- dibantu dengan tafsir Al-Qur`an karya ahli tafsir besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya', Tafsir al-Qurthubi, dan Tafsir al-Manaar. Penulis berusaha komitmen dengan kejadian-kejadian sesungguhnya dalam setiap kisah seperti terdapat dalam tafsir yang paling kuat, dan aku tidak melenceng dari itu.

Pola ilmu akan tampak dalam tabiat dan kebiasaan-kebiasaan para binatang yang diambil dari ensiklopedia ilmiah. Dalam menulis kisah-kisah ini penulis selalu berusaha untuk tidak terlalu bebas di dalam dua pola tersebut.

Adapun pola utama dalam buku ini (pola seni), penulis bergerak sebebas-bebasnya, mengingat seni telah memberikan kebebasan tanpa batas pada daya khayal. Begitulah, penulis mengolok-olok kezaliman seorang manusia terhadap saudaranya sesama manusia dengan ungkapan yang diinginkan penulis dan penulis membuat nama-nama binatang dalam kisah ini serta membayangkan peristiwa-peristiwa hidupnya sebelum bergabung dalam melayani sang nabi. Dalam hal ini penulis tidak terikat kecuali dalam tataran seni semata.

Buku Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an ini awalnya dimuat dalam kolom agama pada harian al-Ahram. Penulis memutuskan kish kumpulan hewan ini untuk menjadi 'tamu' dalam kolom itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah tapi sesuatu yang menyenangkan. Kisah Hewan yang ditulis adalah kisah serigala Nabi Yusuf. Kolom yang terbatas menjadi penghalang untuk memuat kisah secara utuh.

Setelah itu, majalah 'al-Mukhtar al-Islami meminta untuk menyebarkan kumpulan kisah ini dalam bentuk buku. Penulis kembali mengasingkan diri untuk menyempurnakan kisah-kisah ini. Akhirnya buku itu pun didistribusikan untuk dijual hingga dicetak ulang dua kali.

Kisah-kisah penuh hikmah ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Nyonya Nafisah al-Baqly disiapkan untuk disajikan dalam program bahasa Eropa di radio siaran Mesir. Akhirnya episode-episode kisah ini menjadi pertukaran produksi dengan radio Perancis dan 'terbanglah' kisah-kisah ini ke Paris untuk disiarkan di Radio Perancis.

Sepanjang waktu itu Penulis menyadari bahwa ada kerja yang telah dimulai tapi belum disempurnakan. Penulis belum menulis kisah-kisah hewan lainnya. Penulis bermaksud untuk menyempurnakan dan menyebarkannya dalam buku berwarna disertai gambar-gambar.

Selama masa menulis, Penulis merasakan bahwa lembaran kehidupan hewan dan makhluk-makhluk ini telah lama ditutup. Tapi penulis yakin bahwa tidak ada yang akan lenyap, tidak kata-kata, perasaan, bayangan, atau peristiwa. Semuanya akan tetap tersimpan dalam jantung dan memori alam. Semua akan berubah menjadi rahasia alam. Memang, menemukan sebuah rahasia adalah sulit tapi penulis mengakui bahwa apa yang dialami untuk menyingkap tabir rahasia-rahasia itu sangat menyenangkan. Penulis telah menuliskan Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an tersebut dan kini hikmah dan ibroh tersebut telah siap untuk kita reguk. Maka bacalah!

Tidak ada komentar: