“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (3)
Apakah Iman Itu ?
Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.
Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.
Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.
Amal Saleh
Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.
Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.
Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.
Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar
Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.
Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.
Kepemimpinan Kaum Muslimin
Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….
Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.
Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….
Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.
* * *
Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.
Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.
Senin, 23 Juli 2007
SURAH AL-ASHR
“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (3)
Apakah Iman Itu ?
Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.
Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.
Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.
Amal Saleh
Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.
Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.
Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.
Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar
Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.
Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.
Kepemimpinan Kaum Muslimin
Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….
Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.
Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….
Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.
* * *
Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.
Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.
Apakah Iman Itu ?
Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.
Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.
Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.
Amal Saleh
Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.
Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.
Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.
Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar
Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.
Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.
Kepemimpinan Kaum Muslimin
Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….
Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.
Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….
Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.
* * *
Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.
Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.
SURAH AL-ASHR
“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (3)
Apakah Iman Itu ?
Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.
Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.
Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.
Amal Saleh
Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.
Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.
Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.
Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar
Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.
Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.
Kepemimpinan Kaum Muslimin
Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….
Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.
Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….
Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.
* * *
Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.
Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.
Apakah Iman Itu ?
Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.
Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.
Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.
Amal Saleh
Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.
Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.
Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.
Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar
Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.
Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.
Kepemimpinan Kaum Muslimin
Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….
Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.
Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….
Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.
* * *
Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.
Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.
Hegemoni Kristen-Barat, dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi
Selama ini kita mengenal istilah manajemen itu dalam istilah business management, kemudian marketing management atau mungkin Human Resources Development Management atau mungkin finance management.
Sekarang saya akan memperkenalkan pada Anda apa yang disebut dengan mind management, manajemen pikiran.
Kenapa saya ambil judul seperti itu? Karena saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang mengatakan bahwa Allah mengikuti sangkaan seorang hamba terhadap-Nya. Jadi, ketika kita berpikir positif, maka itulah yang akan Allah kirimkan kepada kita. Ketika seorang menganggap dirinya berhasil, menggangap dirinya gagal, menganggap dirinya kecewa, atau menganggap dirinya susah, maka Tuhan akan mengirimkan pikiran itu kepada dirinya. If you think you can, you can. If you can not, you can not. Kalau Anda berpikir bisa, Anda pasti bisa. Tapi, kalau Anda berpikir sudah tidak bisa, maka Anda tidak akan bisa. Tuhan akan menakdirkan Anda tidak bisa. Maka, mulailah cara berpikir kita yang positif sehingga Allah akan mengirimkan kepada Anda pikiran yang positif, mind management.
Para insan sejati, di dalam kehidupan mungkin Anda pernah mengalami apa yang saya sebut dengan istilah 4L: Letih, Lesu, Loyo, Lemah. Bukan hanya secara pikiran, bukan hanya secara batin, tapi juga secara fisik. Bisa secara fisik, bisa secara mental, bisa secara spiritual. Maka, kita perlu yang namanya physical fitness, mental fitness, dan spiritual fitness. Tapi, di bagian pengantar ini saya akan fokus membahas kenapa di dalam diri kita ada yang namanya 4L tadi. Kenapa itu masuk ke dalam diri kita? Menyerang kehidupan kita? Bahkan, ini tidak terjadi secara individu saja, tetapi secara konteks masyarakat pun terjadi.
Ada ketidaksemangatan dalam hidup. Kita akan melihat di sini kenapa kita menjadi tidak punya kekuatan dalam hidup ini. Why do become powerless. Kita punya power, tapi kenapa hari ini kita merasa tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita? Kita tidak bisa memecahkan masalah, bahkan masalah itu terasa lebih besar dibandingkan kemampuan kita. Kenapa ini terjadi? Itu karena powerless. Kekuatan kita tidak muncul.
Saya mengajak Anda untuk mengenal darimana powerless ini muncul, darimana kekuatan-kekuatan yang berkurang ini muncul, kenapa kita menjadi powerless dalam kehidupan kita. Apa hambatan-hambatan yang dialami oleh seseorang sehingga dirinya menjadi powerless? Apa yang menyebabkan 4L itu bisa datang? Ada 4 penyebab: 2 penyebab yang datang dari dalam diri kita sendiri, dan 2 penyebab yang datang dari luar. Ada penyebab secara internal dan ada penyebab secara eksternal.
Penyebab secara internal, pertama, adalah apa yang disebut dengan bad self image, ada satu citra diri yang negatif. Tanpa disadari oleh kita, setelah kita berpuluh-puluh tahun menjalani hidup ini, tanpa terasa di dalam kehidupan kita dihinggapi oleh apa yang disebut bad self image. Ternyata image itu bukan hanya untuk perusahaan saja, diri kita juga perlu brand image, perlu citra. Setiap orang perlu citra. Tapi, kalau citra yang sudah terbentuk dalam diri kita adalah negatif, akan sulit buat kita untuk maju ke depan.
Bad self image ini muncul dari lingkungan yang paling dekat dengan Anda, keluarga, ini yang paling dominan. Berdasarkan suatu penelitian, yang bisa mengubah dan menciptakan image seseorang adalah dari kehidupan di rumah Anda. The first school is at home and the first teacher is mother ‘sekolah pertama untuk Anda itu adalah di rumah dan guru pertama yang paling baik itu adalah ibu Anda sendiri di rumah’. Keluarga inilah yang akan membentuk brand image ini positif atau negatif.
Para insan sejati, pernahkah Anda mengalami satu situasi ketika Anda masih sekolah di SD lalu Anda mendapatkan rapor dan Anda pada waktu itu agak kaget karena dari rapor Anda banyak yang merah dibandingkan yang bukan merah kemudian Anda mendapat ranking di bawah 20. Anda malu untuk menyerahkan rapor ini kepada orang tua Anda. Akhirnya Anda terpaksa menyerahkan. Apa ekspresi wajah orang tua Anda ketika melihat rapor Anda itu jelek? Tanpa disadari muncullah kata-kata, “Memang kamu ini orang yang bodoh, kamu tuh tidak pintar, tidak seperti kakak kamu.” Masuklah kata-kata tadi ke dalam pikiran kita dan itu terjadi berulang-ulang dalam kehidupan Anda, “You are stupid, Anda bodoh. Anda tidak pintar, Anda goblok,” dan segala macam bentuk istilah-istilah yang lain. Dan, istilah yang lebih kasar daripada itu masuk ke dalam pikiran Anda. Lalu, tanpa sadar itu membentuk satu rekaman yang sangat luar biasa di dalam otak Anda. Akhirnya, ketika Anda menjadi dewasa, Anda punya satu label, maaf, seolah-olah di atas jidat Anda tertulis kata-kata, “I am a stupid, saya adalah orang yang bodoh, saya adalah orang yang tidak pandai.” Ketika Anda berusaha untuk pintar atau maju, maka Anda selalu dihinggapi oleh perasaan, “I am stupid, saya adalah orang yang bodoh.” Itu yang saya maksud dengan bad self image.
Kalau sebuah perusahaan mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk memperbaiki citra merek perusahaan, how to create brand image, bagaimana menciptakan brand image sebuah perusahaan. Saya punya beberapa kawan yang menjadi konsultan di bidang brand image, nilai proyeknya luar biasa. Ada yang 10 miliar, ada yang 20 miliar, hanya untuk mengubah logo atau untuk mengubah semboyan. Hanya untuk mengubah moto atau warna, mereka habiskan dana yang cukup besar. Tapi, apakah Anda terpikir untuk mengeluarkan selain dana, melainkan pikiran dan waktu Anda untuk mengubah self image Anda yang sudah negatif tadi? Pernahkah kita terpikir untuk investasikan waktu kita, tenaga kita, dan pikiran kita untuk mengubah image kita yang negatif di mata orang atau di mata kita sendiri?
Ini hal pertama yang menyebabkan Anda bisa mengalami lesu, letih, loyo, lemah dan sebagainya. Karena bad self image, ada citra diri yang negatif. Kita harus jauhi citra diri yang negative. Marilah kita bangun dengan self image yang positif. Itu yang pertama.
Kita lihat yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience, pengalaman buruk atau dalam dunia psikologi disebut dengan traumatic syndrome. Pernah Anda mengalami traumatic syndrome? Mungkin ada beberapa contoh kasus yang bisa saya sampaikan di sini. Salah satunya apa yang disebut dengan istilah, maaf, sexual harrasment atau sexual abussment. Pernah Anda membaca sebuah berita atau artikel di satu koran atau majalah, seorang anak gadis, maaf, diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Ketika dewasa mungkin ia akan mengalami apa yang disebut dengan traumatic syndrome. Dia merasa dirinya sudah tidak punya nilai apa-apa, “Apalah artinya saya, saya pernah mengalami sexual harassment atau sexual abussment dari orang tua saya, dari ayah kandungnya sendiri.”
Setiap orang pasti mendapatkan musibah, tinggal bagaimana kita menilai peristiwa itu, positif atau negatif, karena Tuhan berfirman dalam surah Ali Imran ayat 191, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, dan selamatkanlah kami dari api neraka.” Apa pun musibah yang menimpa kita, walaupun kita tidak siap menerima musibah itu, pada dasarnya itu tidak ada yang sia-sia, semua itu ada manfaatnya, ada hikmahnya. Kata orang bijak, ada hikmah di balik itu semua.
Jadi itu yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience. Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah anak Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah pasangan hidup Anda mengalami pengalaman buruk seperti itu? Kalau iya, itu akan menyebabkan 4L tadi: Letih, Lesu, Loyo, dan Lemah. Karena bad experience tadi, pengalaman buruk menimpa Anda. Dan, bentuknya pada setiap orang itu berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi, tergantung bagaimana Allah memberikan kepada dia, Karena Allah selalu mempunyai satu skenario yang beraneka ragam pada setiap manusia, that’s a miracle of life, itulah misteri kehidupan, itu hal yang sangat luar biasa.
Kita masuk kepada penyebab yang ketiga dari 4L tadi. Bad partner. Ketika Anda salah memilih teman, Anda salah memilih pasangan, maka ini akan mengakibatkan Anda mengalami powerless. Ada satu ungkapan seorang filsuf, “Sebutkan teman-teman Anda, saya akan tebak siapa diri Anda.” Ketika Anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa diri Anda sebenarnya. Kalau Anda terbiasa berteman dengan teman-teman yang negatif, maka Anda akan menjadi negatif juga. Ketika Anda biasa berteman dengan yang positif, maka Anda pun akan berpikir positif juga. Ini bisa menjadi penyebab Anda untuk mengalami powerless tadi, bad partner, Anda tidak pandai memilih teman.
Para insan sejati, di dalam salah satu nasihat nabi kita Muhammad saw., ada satu parameter yang membantu kita untuk bisa memilih teman yang baik itu seperti apa sih sebenarnya. Teman di sini maksudnya luas, bisa teman kehidupan, cara memilih suami atau istri. Atau teman dalam arti orang kepercayaan, kalau Anda seorang pimpinan maka Anda perlu orang kepercayaan. Bisa bermacam-macam bentuknya. Nabi Muhammad saw. memberi satu patokan bagaimana memilih teman yang baik. Kata beliau, ketika kita sudah ingin memilih seorang teman, maka engkau harus melihat pada 3 aspek. Yang pertama, sudahkah Anda bermalam di rumahnya, dalam arti positif tentu saja. Karena setiap orang itu akan berbeda penampilannya pada saat di luar rumah dan di dalam rumah. Yang kedua kata Nabi, sudahkah engkau musafir (bepergian jauh) bersamanya. Yang ketiga, sudahkah Anda mengadakan transaksi bisnis bersama dia, sudahkah Anda melakukan muamalah dengan dia. Banyak orang yang jujur dalam keseharian, tetapi begitu bicara masalah bisnis atau uang, kadang-kadang perubahan sikap itu akan terjadi.
Oke, kita lihat penyebab yang keempat dari 4L yakni bad environment, lingkungan yang buruk, al-biah assayyiah. Para insan sejati, tidak cukup hanya sekadar teman yang baik, kita membutuhkan sebuah komunitas. Katakanlah Anda sekarang memiliki satu motivasi yang kuat untuk maju, Anda optimis, Anda positive thinking, tapi kalau Anda berada dalam satu lingkungan yang negatif, lama-lama Anda akan mengalami satu kontaminasi, nilai-nilai kebaikan Anda akan luntur dan hilang. Kenapa? Terlalu banyak dominansi lingkungan terhadap diri Anda. Atau sebaliknya, kalau kita berada dalam lingkungan yang positif, walaupun kita awalnya negatif, masuk ke dalam lingkungan yang positif, kita akan terkontaminasi yang positif juga, kita akan tertular yang positif juga.
Jadi, pemilihan lingkungan sangat penting sekali. Itulah sebabnya di dalam Islam ada yang namanya konsep hijrah. Saya memahami hijrah ini bukan hanya satu aspek, tapi bagaimana kita melihat hijrah ini dalam 2 aspek. Hijrah secara fisik dan hijrah secara mental. Kita tidak hanya perlu hijrah secara fisik, tapi juga hijrah secara mental.
Untuk menjadi baik tidak cukup hanya sekadar perubahan secara spiritual, tapi kita juga harus memilih lingkungan yang baik, pilihkan anak-anak kita dengan lingkungan yang baik, sekolah yang baik, tempat tinggal yang baik, pilihkan suami atau istri kita dengan lingkungan rumah tangga yang baik. Kita bentuk suasana rumah tangga itu rumah tangga yang ideal. Pilihlah untuk masyarakat kita suatu komunitas yang baik, pilihlah untuk rakyat kita lingkungan bangsa yang baik. Kalau semua sudah dibingkai dengan lingkungan yang baik, maka insya Allah kita tidak akan terjebak terhadap penyebab terjadinya 4L (Letih, Lesu, Lelah, dan Lemah) seperti bad partner, bad self image, bad experience, dan traumatic syndrome.
Para insan sejati, saya akhiri pembahasan masalah ini dengan pepatah Nothing is impossible, everything is possible if you believe in Allah. Tidak ada yang mustahil di muka bumi ini kalau Anda percaya kepada Allah.*
Sekarang saya akan memperkenalkan pada Anda apa yang disebut dengan mind management, manajemen pikiran.
Kenapa saya ambil judul seperti itu? Karena saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang mengatakan bahwa Allah mengikuti sangkaan seorang hamba terhadap-Nya. Jadi, ketika kita berpikir positif, maka itulah yang akan Allah kirimkan kepada kita. Ketika seorang menganggap dirinya berhasil, menggangap dirinya gagal, menganggap dirinya kecewa, atau menganggap dirinya susah, maka Tuhan akan mengirimkan pikiran itu kepada dirinya. If you think you can, you can. If you can not, you can not. Kalau Anda berpikir bisa, Anda pasti bisa. Tapi, kalau Anda berpikir sudah tidak bisa, maka Anda tidak akan bisa. Tuhan akan menakdirkan Anda tidak bisa. Maka, mulailah cara berpikir kita yang positif sehingga Allah akan mengirimkan kepada Anda pikiran yang positif, mind management.
Para insan sejati, di dalam kehidupan mungkin Anda pernah mengalami apa yang saya sebut dengan istilah 4L: Letih, Lesu, Loyo, Lemah. Bukan hanya secara pikiran, bukan hanya secara batin, tapi juga secara fisik. Bisa secara fisik, bisa secara mental, bisa secara spiritual. Maka, kita perlu yang namanya physical fitness, mental fitness, dan spiritual fitness. Tapi, di bagian pengantar ini saya akan fokus membahas kenapa di dalam diri kita ada yang namanya 4L tadi. Kenapa itu masuk ke dalam diri kita? Menyerang kehidupan kita? Bahkan, ini tidak terjadi secara individu saja, tetapi secara konteks masyarakat pun terjadi.
Ada ketidaksemangatan dalam hidup. Kita akan melihat di sini kenapa kita menjadi tidak punya kekuatan dalam hidup ini. Why do become powerless. Kita punya power, tapi kenapa hari ini kita merasa tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita? Kita tidak bisa memecahkan masalah, bahkan masalah itu terasa lebih besar dibandingkan kemampuan kita. Kenapa ini terjadi? Itu karena powerless. Kekuatan kita tidak muncul.
Saya mengajak Anda untuk mengenal darimana powerless ini muncul, darimana kekuatan-kekuatan yang berkurang ini muncul, kenapa kita menjadi powerless dalam kehidupan kita. Apa hambatan-hambatan yang dialami oleh seseorang sehingga dirinya menjadi powerless? Apa yang menyebabkan 4L itu bisa datang? Ada 4 penyebab: 2 penyebab yang datang dari dalam diri kita sendiri, dan 2 penyebab yang datang dari luar. Ada penyebab secara internal dan ada penyebab secara eksternal.
Penyebab secara internal, pertama, adalah apa yang disebut dengan bad self image, ada satu citra diri yang negatif. Tanpa disadari oleh kita, setelah kita berpuluh-puluh tahun menjalani hidup ini, tanpa terasa di dalam kehidupan kita dihinggapi oleh apa yang disebut bad self image. Ternyata image itu bukan hanya untuk perusahaan saja, diri kita juga perlu brand image, perlu citra. Setiap orang perlu citra. Tapi, kalau citra yang sudah terbentuk dalam diri kita adalah negatif, akan sulit buat kita untuk maju ke depan.
Bad self image ini muncul dari lingkungan yang paling dekat dengan Anda, keluarga, ini yang paling dominan. Berdasarkan suatu penelitian, yang bisa mengubah dan menciptakan image seseorang adalah dari kehidupan di rumah Anda. The first school is at home and the first teacher is mother ‘sekolah pertama untuk Anda itu adalah di rumah dan guru pertama yang paling baik itu adalah ibu Anda sendiri di rumah’. Keluarga inilah yang akan membentuk brand image ini positif atau negatif.
Para insan sejati, pernahkah Anda mengalami satu situasi ketika Anda masih sekolah di SD lalu Anda mendapatkan rapor dan Anda pada waktu itu agak kaget karena dari rapor Anda banyak yang merah dibandingkan yang bukan merah kemudian Anda mendapat ranking di bawah 20. Anda malu untuk menyerahkan rapor ini kepada orang tua Anda. Akhirnya Anda terpaksa menyerahkan. Apa ekspresi wajah orang tua Anda ketika melihat rapor Anda itu jelek? Tanpa disadari muncullah kata-kata, “Memang kamu ini orang yang bodoh, kamu tuh tidak pintar, tidak seperti kakak kamu.” Masuklah kata-kata tadi ke dalam pikiran kita dan itu terjadi berulang-ulang dalam kehidupan Anda, “You are stupid, Anda bodoh. Anda tidak pintar, Anda goblok,” dan segala macam bentuk istilah-istilah yang lain. Dan, istilah yang lebih kasar daripada itu masuk ke dalam pikiran Anda. Lalu, tanpa sadar itu membentuk satu rekaman yang sangat luar biasa di dalam otak Anda. Akhirnya, ketika Anda menjadi dewasa, Anda punya satu label, maaf, seolah-olah di atas jidat Anda tertulis kata-kata, “I am a stupid, saya adalah orang yang bodoh, saya adalah orang yang tidak pandai.” Ketika Anda berusaha untuk pintar atau maju, maka Anda selalu dihinggapi oleh perasaan, “I am stupid, saya adalah orang yang bodoh.” Itu yang saya maksud dengan bad self image.
Kalau sebuah perusahaan mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk memperbaiki citra merek perusahaan, how to create brand image, bagaimana menciptakan brand image sebuah perusahaan. Saya punya beberapa kawan yang menjadi konsultan di bidang brand image, nilai proyeknya luar biasa. Ada yang 10 miliar, ada yang 20 miliar, hanya untuk mengubah logo atau untuk mengubah semboyan. Hanya untuk mengubah moto atau warna, mereka habiskan dana yang cukup besar. Tapi, apakah Anda terpikir untuk mengeluarkan selain dana, melainkan pikiran dan waktu Anda untuk mengubah self image Anda yang sudah negatif tadi? Pernahkah kita terpikir untuk investasikan waktu kita, tenaga kita, dan pikiran kita untuk mengubah image kita yang negatif di mata orang atau di mata kita sendiri?
Ini hal pertama yang menyebabkan Anda bisa mengalami lesu, letih, loyo, lemah dan sebagainya. Karena bad self image, ada citra diri yang negatif. Kita harus jauhi citra diri yang negative. Marilah kita bangun dengan self image yang positif. Itu yang pertama.
Kita lihat yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience, pengalaman buruk atau dalam dunia psikologi disebut dengan traumatic syndrome. Pernah Anda mengalami traumatic syndrome? Mungkin ada beberapa contoh kasus yang bisa saya sampaikan di sini. Salah satunya apa yang disebut dengan istilah, maaf, sexual harrasment atau sexual abussment. Pernah Anda membaca sebuah berita atau artikel di satu koran atau majalah, seorang anak gadis, maaf, diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Ketika dewasa mungkin ia akan mengalami apa yang disebut dengan traumatic syndrome. Dia merasa dirinya sudah tidak punya nilai apa-apa, “Apalah artinya saya, saya pernah mengalami sexual harassment atau sexual abussment dari orang tua saya, dari ayah kandungnya sendiri.”
Setiap orang pasti mendapatkan musibah, tinggal bagaimana kita menilai peristiwa itu, positif atau negatif, karena Tuhan berfirman dalam surah Ali Imran ayat 191, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, dan selamatkanlah kami dari api neraka.” Apa pun musibah yang menimpa kita, walaupun kita tidak siap menerima musibah itu, pada dasarnya itu tidak ada yang sia-sia, semua itu ada manfaatnya, ada hikmahnya. Kata orang bijak, ada hikmah di balik itu semua.
Jadi itu yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience. Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah anak Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah pasangan hidup Anda mengalami pengalaman buruk seperti itu? Kalau iya, itu akan menyebabkan 4L tadi: Letih, Lesu, Loyo, dan Lemah. Karena bad experience tadi, pengalaman buruk menimpa Anda. Dan, bentuknya pada setiap orang itu berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi, tergantung bagaimana Allah memberikan kepada dia, Karena Allah selalu mempunyai satu skenario yang beraneka ragam pada setiap manusia, that’s a miracle of life, itulah misteri kehidupan, itu hal yang sangat luar biasa.
Kita masuk kepada penyebab yang ketiga dari 4L tadi. Bad partner. Ketika Anda salah memilih teman, Anda salah memilih pasangan, maka ini akan mengakibatkan Anda mengalami powerless. Ada satu ungkapan seorang filsuf, “Sebutkan teman-teman Anda, saya akan tebak siapa diri Anda.” Ketika Anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa diri Anda sebenarnya. Kalau Anda terbiasa berteman dengan teman-teman yang negatif, maka Anda akan menjadi negatif juga. Ketika Anda biasa berteman dengan yang positif, maka Anda pun akan berpikir positif juga. Ini bisa menjadi penyebab Anda untuk mengalami powerless tadi, bad partner, Anda tidak pandai memilih teman.
Para insan sejati, di dalam salah satu nasihat nabi kita Muhammad saw., ada satu parameter yang membantu kita untuk bisa memilih teman yang baik itu seperti apa sih sebenarnya. Teman di sini maksudnya luas, bisa teman kehidupan, cara memilih suami atau istri. Atau teman dalam arti orang kepercayaan, kalau Anda seorang pimpinan maka Anda perlu orang kepercayaan. Bisa bermacam-macam bentuknya. Nabi Muhammad saw. memberi satu patokan bagaimana memilih teman yang baik. Kata beliau, ketika kita sudah ingin memilih seorang teman, maka engkau harus melihat pada 3 aspek. Yang pertama, sudahkah Anda bermalam di rumahnya, dalam arti positif tentu saja. Karena setiap orang itu akan berbeda penampilannya pada saat di luar rumah dan di dalam rumah. Yang kedua kata Nabi, sudahkah engkau musafir (bepergian jauh) bersamanya. Yang ketiga, sudahkah Anda mengadakan transaksi bisnis bersama dia, sudahkah Anda melakukan muamalah dengan dia. Banyak orang yang jujur dalam keseharian, tetapi begitu bicara masalah bisnis atau uang, kadang-kadang perubahan sikap itu akan terjadi.
Oke, kita lihat penyebab yang keempat dari 4L yakni bad environment, lingkungan yang buruk, al-biah assayyiah. Para insan sejati, tidak cukup hanya sekadar teman yang baik, kita membutuhkan sebuah komunitas. Katakanlah Anda sekarang memiliki satu motivasi yang kuat untuk maju, Anda optimis, Anda positive thinking, tapi kalau Anda berada dalam satu lingkungan yang negatif, lama-lama Anda akan mengalami satu kontaminasi, nilai-nilai kebaikan Anda akan luntur dan hilang. Kenapa? Terlalu banyak dominansi lingkungan terhadap diri Anda. Atau sebaliknya, kalau kita berada dalam lingkungan yang positif, walaupun kita awalnya negatif, masuk ke dalam lingkungan yang positif, kita akan terkontaminasi yang positif juga, kita akan tertular yang positif juga.
Jadi, pemilihan lingkungan sangat penting sekali. Itulah sebabnya di dalam Islam ada yang namanya konsep hijrah. Saya memahami hijrah ini bukan hanya satu aspek, tapi bagaimana kita melihat hijrah ini dalam 2 aspek. Hijrah secara fisik dan hijrah secara mental. Kita tidak hanya perlu hijrah secara fisik, tapi juga hijrah secara mental.
Untuk menjadi baik tidak cukup hanya sekadar perubahan secara spiritual, tapi kita juga harus memilih lingkungan yang baik, pilihkan anak-anak kita dengan lingkungan yang baik, sekolah yang baik, tempat tinggal yang baik, pilihkan suami atau istri kita dengan lingkungan rumah tangga yang baik. Kita bentuk suasana rumah tangga itu rumah tangga yang ideal. Pilihlah untuk masyarakat kita suatu komunitas yang baik, pilihlah untuk rakyat kita lingkungan bangsa yang baik. Kalau semua sudah dibingkai dengan lingkungan yang baik, maka insya Allah kita tidak akan terjebak terhadap penyebab terjadinya 4L (Letih, Lesu, Lelah, dan Lemah) seperti bad partner, bad self image, bad experience, dan traumatic syndrome.
Para insan sejati, saya akhiri pembahasan masalah ini dengan pepatah Nothing is impossible, everything is possible if you believe in Allah. Tidak ada yang mustahil di muka bumi ini kalau Anda percaya kepada Allah.*
Hegemoni Kristen-Barat, dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi
Selama ini kita mengenal istilah manajemen itu dalam istilah business management, kemudian marketing management atau mungkin Human Resources Development Management atau mungkin finance management.
Sekarang saya akan memperkenalkan pada Anda apa yang disebut dengan mind management, manajemen pikiran.
Kenapa saya ambil judul seperti itu? Karena saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang mengatakan bahwa Allah mengikuti sangkaan seorang hamba terhadap-Nya. Jadi, ketika kita berpikir positif, maka itulah yang akan Allah kirimkan kepada kita. Ketika seorang menganggap dirinya berhasil, menggangap dirinya gagal, menganggap dirinya kecewa, atau menganggap dirinya susah, maka Tuhan akan mengirimkan pikiran itu kepada dirinya. If you think you can, you can. If you can not, you can not. Kalau Anda berpikir bisa, Anda pasti bisa. Tapi, kalau Anda berpikir sudah tidak bisa, maka Anda tidak akan bisa. Tuhan akan menakdirkan Anda tidak bisa. Maka, mulailah cara berpikir kita yang positif sehingga Allah akan mengirimkan kepada Anda pikiran yang positif, mind management.
Para insan sejati, di dalam kehidupan mungkin Anda pernah mengalami apa yang saya sebut dengan istilah 4L: Letih, Lesu, Loyo, Lemah. Bukan hanya secara pikiran, bukan hanya secara batin, tapi juga secara fisik. Bisa secara fisik, bisa secara mental, bisa secara spiritual. Maka, kita perlu yang namanya physical fitness, mental fitness, dan spiritual fitness. Tapi, di bagian pengantar ini saya akan fokus membahas kenapa di dalam diri kita ada yang namanya 4L tadi. Kenapa itu masuk ke dalam diri kita? Menyerang kehidupan kita? Bahkan, ini tidak terjadi secara individu saja, tetapi secara konteks masyarakat pun terjadi.
Ada ketidaksemangatan dalam hidup. Kita akan melihat di sini kenapa kita menjadi tidak punya kekuatan dalam hidup ini. Why do become powerless. Kita punya power, tapi kenapa hari ini kita merasa tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita? Kita tidak bisa memecahkan masalah, bahkan masalah itu terasa lebih besar dibandingkan kemampuan kita. Kenapa ini terjadi? Itu karena powerless. Kekuatan kita tidak muncul.
Saya mengajak Anda untuk mengenal darimana powerless ini muncul, darimana kekuatan-kekuatan yang berkurang ini muncul, kenapa kita menjadi powerless dalam kehidupan kita. Apa hambatan-hambatan yang dialami oleh seseorang sehingga dirinya menjadi powerless? Apa yang menyebabkan 4L itu bisa datang? Ada 4 penyebab: 2 penyebab yang datang dari dalam diri kita sendiri, dan 2 penyebab yang datang dari luar. Ada penyebab secara internal dan ada penyebab secara eksternal.
Penyebab secara internal, pertama, adalah apa yang disebut dengan bad self image, ada satu citra diri yang negatif. Tanpa disadari oleh kita, setelah kita berpuluh-puluh tahun menjalani hidup ini, tanpa terasa di dalam kehidupan kita dihinggapi oleh apa yang disebut bad self image. Ternyata image itu bukan hanya untuk perusahaan saja, diri kita juga perlu brand image, perlu citra. Setiap orang perlu citra. Tapi, kalau citra yang sudah terbentuk dalam diri kita adalah negatif, akan sulit buat kita untuk maju ke depan.
Bad self image ini muncul dari lingkungan yang paling dekat dengan Anda, keluarga, ini yang paling dominan. Berdasarkan suatu penelitian, yang bisa mengubah dan menciptakan image seseorang adalah dari kehidupan di rumah Anda. The first school is at home and the first teacher is mother ‘sekolah pertama untuk Anda itu adalah di rumah dan guru pertama yang paling baik itu adalah ibu Anda sendiri di rumah’. Keluarga inilah yang akan membentuk brand image ini positif atau negatif.
Para insan sejati, pernahkah Anda mengalami satu situasi ketika Anda masih sekolah di SD lalu Anda mendapatkan rapor dan Anda pada waktu itu agak kaget karena dari rapor Anda banyak yang merah dibandingkan yang bukan merah kemudian Anda mendapat ranking di bawah 20. Anda malu untuk menyerahkan rapor ini kepada orang tua Anda. Akhirnya Anda terpaksa menyerahkan. Apa ekspresi wajah orang tua Anda ketika melihat rapor Anda itu jelek? Tanpa disadari muncullah kata-kata, “Memang kamu ini orang yang bodoh, kamu tuh tidak pintar, tidak seperti kakak kamu.” Masuklah kata-kata tadi ke dalam pikiran kita dan itu terjadi berulang-ulang dalam kehidupan Anda, “You are stupid, Anda bodoh. Anda tidak pintar, Anda goblok,” dan segala macam bentuk istilah-istilah yang lain. Dan, istilah yang lebih kasar daripada itu masuk ke dalam pikiran Anda. Lalu, tanpa sadar itu membentuk satu rekaman yang sangat luar biasa di dalam otak Anda. Akhirnya, ketika Anda menjadi dewasa, Anda punya satu label, maaf, seolah-olah di atas jidat Anda tertulis kata-kata, “I am a stupid, saya adalah orang yang bodoh, saya adalah orang yang tidak pandai.” Ketika Anda berusaha untuk pintar atau maju, maka Anda selalu dihinggapi oleh perasaan, “I am stupid, saya adalah orang yang bodoh.” Itu yang saya maksud dengan bad self image.
Kalau sebuah perusahaan mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk memperbaiki citra merek perusahaan, how to create brand image, bagaimana menciptakan brand image sebuah perusahaan. Saya punya beberapa kawan yang menjadi konsultan di bidang brand image, nilai proyeknya luar biasa. Ada yang 10 miliar, ada yang 20 miliar, hanya untuk mengubah logo atau untuk mengubah semboyan. Hanya untuk mengubah moto atau warna, mereka habiskan dana yang cukup besar. Tapi, apakah Anda terpikir untuk mengeluarkan selain dana, melainkan pikiran dan waktu Anda untuk mengubah self image Anda yang sudah negatif tadi? Pernahkah kita terpikir untuk investasikan waktu kita, tenaga kita, dan pikiran kita untuk mengubah image kita yang negatif di mata orang atau di mata kita sendiri?
Ini hal pertama yang menyebabkan Anda bisa mengalami lesu, letih, loyo, lemah dan sebagainya. Karena bad self image, ada citra diri yang negatif. Kita harus jauhi citra diri yang negative. Marilah kita bangun dengan self image yang positif. Itu yang pertama.
Kita lihat yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience, pengalaman buruk atau dalam dunia psikologi disebut dengan traumatic syndrome. Pernah Anda mengalami traumatic syndrome? Mungkin ada beberapa contoh kasus yang bisa saya sampaikan di sini. Salah satunya apa yang disebut dengan istilah, maaf, sexual harrasment atau sexual abussment. Pernah Anda membaca sebuah berita atau artikel di satu koran atau majalah, seorang anak gadis, maaf, diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Ketika dewasa mungkin ia akan mengalami apa yang disebut dengan traumatic syndrome. Dia merasa dirinya sudah tidak punya nilai apa-apa, “Apalah artinya saya, saya pernah mengalami sexual harassment atau sexual abussment dari orang tua saya, dari ayah kandungnya sendiri.”
Setiap orang pasti mendapatkan musibah, tinggal bagaimana kita menilai peristiwa itu, positif atau negatif, karena Tuhan berfirman dalam surah Ali Imran ayat 191, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, dan selamatkanlah kami dari api neraka.” Apa pun musibah yang menimpa kita, walaupun kita tidak siap menerima musibah itu, pada dasarnya itu tidak ada yang sia-sia, semua itu ada manfaatnya, ada hikmahnya. Kata orang bijak, ada hikmah di balik itu semua.
Jadi itu yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience. Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah anak Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah pasangan hidup Anda mengalami pengalaman buruk seperti itu? Kalau iya, itu akan menyebabkan 4L tadi: Letih, Lesu, Loyo, dan Lemah. Karena bad experience tadi, pengalaman buruk menimpa Anda. Dan, bentuknya pada setiap orang itu berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi, tergantung bagaimana Allah memberikan kepada dia, Karena Allah selalu mempunyai satu skenario yang beraneka ragam pada setiap manusia, that’s a miracle of life, itulah misteri kehidupan, itu hal yang sangat luar biasa.
Kita masuk kepada penyebab yang ketiga dari 4L tadi. Bad partner. Ketika Anda salah memilih teman, Anda salah memilih pasangan, maka ini akan mengakibatkan Anda mengalami powerless. Ada satu ungkapan seorang filsuf, “Sebutkan teman-teman Anda, saya akan tebak siapa diri Anda.” Ketika Anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa diri Anda sebenarnya. Kalau Anda terbiasa berteman dengan teman-teman yang negatif, maka Anda akan menjadi negatif juga. Ketika Anda biasa berteman dengan yang positif, maka Anda pun akan berpikir positif juga. Ini bisa menjadi penyebab Anda untuk mengalami powerless tadi, bad partner, Anda tidak pandai memilih teman.
Para insan sejati, di dalam salah satu nasihat nabi kita Muhammad saw., ada satu parameter yang membantu kita untuk bisa memilih teman yang baik itu seperti apa sih sebenarnya. Teman di sini maksudnya luas, bisa teman kehidupan, cara memilih suami atau istri. Atau teman dalam arti orang kepercayaan, kalau Anda seorang pimpinan maka Anda perlu orang kepercayaan. Bisa bermacam-macam bentuknya. Nabi Muhammad saw. memberi satu patokan bagaimana memilih teman yang baik. Kata beliau, ketika kita sudah ingin memilih seorang teman, maka engkau harus melihat pada 3 aspek. Yang pertama, sudahkah Anda bermalam di rumahnya, dalam arti positif tentu saja. Karena setiap orang itu akan berbeda penampilannya pada saat di luar rumah dan di dalam rumah. Yang kedua kata Nabi, sudahkah engkau musafir (bepergian jauh) bersamanya. Yang ketiga, sudahkah Anda mengadakan transaksi bisnis bersama dia, sudahkah Anda melakukan muamalah dengan dia. Banyak orang yang jujur dalam keseharian, tetapi begitu bicara masalah bisnis atau uang, kadang-kadang perubahan sikap itu akan terjadi.
Oke, kita lihat penyebab yang keempat dari 4L yakni bad environment, lingkungan yang buruk, al-biah assayyiah. Para insan sejati, tidak cukup hanya sekadar teman yang baik, kita membutuhkan sebuah komunitas. Katakanlah Anda sekarang memiliki satu motivasi yang kuat untuk maju, Anda optimis, Anda positive thinking, tapi kalau Anda berada dalam satu lingkungan yang negatif, lama-lama Anda akan mengalami satu kontaminasi, nilai-nilai kebaikan Anda akan luntur dan hilang. Kenapa? Terlalu banyak dominansi lingkungan terhadap diri Anda. Atau sebaliknya, kalau kita berada dalam lingkungan yang positif, walaupun kita awalnya negatif, masuk ke dalam lingkungan yang positif, kita akan terkontaminasi yang positif juga, kita akan tertular yang positif juga.
Jadi, pemilihan lingkungan sangat penting sekali. Itulah sebabnya di dalam Islam ada yang namanya konsep hijrah. Saya memahami hijrah ini bukan hanya satu aspek, tapi bagaimana kita melihat hijrah ini dalam 2 aspek. Hijrah secara fisik dan hijrah secara mental. Kita tidak hanya perlu hijrah secara fisik, tapi juga hijrah secara mental.
Untuk menjadi baik tidak cukup hanya sekadar perubahan secara spiritual, tapi kita juga harus memilih lingkungan yang baik, pilihkan anak-anak kita dengan lingkungan yang baik, sekolah yang baik, tempat tinggal yang baik, pilihkan suami atau istri kita dengan lingkungan rumah tangga yang baik. Kita bentuk suasana rumah tangga itu rumah tangga yang ideal. Pilihlah untuk masyarakat kita suatu komunitas yang baik, pilihlah untuk rakyat kita lingkungan bangsa yang baik. Kalau semua sudah dibingkai dengan lingkungan yang baik, maka insya Allah kita tidak akan terjebak terhadap penyebab terjadinya 4L (Letih, Lesu, Lelah, dan Lemah) seperti bad partner, bad self image, bad experience, dan traumatic syndrome.
Para insan sejati, saya akhiri pembahasan masalah ini dengan pepatah Nothing is impossible, everything is possible if you believe in Allah. Tidak ada yang mustahil di muka bumi ini kalau Anda percaya kepada Allah.*
Sekarang saya akan memperkenalkan pada Anda apa yang disebut dengan mind management, manajemen pikiran.
Kenapa saya ambil judul seperti itu? Karena saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang mengatakan bahwa Allah mengikuti sangkaan seorang hamba terhadap-Nya. Jadi, ketika kita berpikir positif, maka itulah yang akan Allah kirimkan kepada kita. Ketika seorang menganggap dirinya berhasil, menggangap dirinya gagal, menganggap dirinya kecewa, atau menganggap dirinya susah, maka Tuhan akan mengirimkan pikiran itu kepada dirinya. If you think you can, you can. If you can not, you can not. Kalau Anda berpikir bisa, Anda pasti bisa. Tapi, kalau Anda berpikir sudah tidak bisa, maka Anda tidak akan bisa. Tuhan akan menakdirkan Anda tidak bisa. Maka, mulailah cara berpikir kita yang positif sehingga Allah akan mengirimkan kepada Anda pikiran yang positif, mind management.
Para insan sejati, di dalam kehidupan mungkin Anda pernah mengalami apa yang saya sebut dengan istilah 4L: Letih, Lesu, Loyo, Lemah. Bukan hanya secara pikiran, bukan hanya secara batin, tapi juga secara fisik. Bisa secara fisik, bisa secara mental, bisa secara spiritual. Maka, kita perlu yang namanya physical fitness, mental fitness, dan spiritual fitness. Tapi, di bagian pengantar ini saya akan fokus membahas kenapa di dalam diri kita ada yang namanya 4L tadi. Kenapa itu masuk ke dalam diri kita? Menyerang kehidupan kita? Bahkan, ini tidak terjadi secara individu saja, tetapi secara konteks masyarakat pun terjadi.
Ada ketidaksemangatan dalam hidup. Kita akan melihat di sini kenapa kita menjadi tidak punya kekuatan dalam hidup ini. Why do become powerless. Kita punya power, tapi kenapa hari ini kita merasa tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita? Kita tidak bisa memecahkan masalah, bahkan masalah itu terasa lebih besar dibandingkan kemampuan kita. Kenapa ini terjadi? Itu karena powerless. Kekuatan kita tidak muncul.
Saya mengajak Anda untuk mengenal darimana powerless ini muncul, darimana kekuatan-kekuatan yang berkurang ini muncul, kenapa kita menjadi powerless dalam kehidupan kita. Apa hambatan-hambatan yang dialami oleh seseorang sehingga dirinya menjadi powerless? Apa yang menyebabkan 4L itu bisa datang? Ada 4 penyebab: 2 penyebab yang datang dari dalam diri kita sendiri, dan 2 penyebab yang datang dari luar. Ada penyebab secara internal dan ada penyebab secara eksternal.
Penyebab secara internal, pertama, adalah apa yang disebut dengan bad self image, ada satu citra diri yang negatif. Tanpa disadari oleh kita, setelah kita berpuluh-puluh tahun menjalani hidup ini, tanpa terasa di dalam kehidupan kita dihinggapi oleh apa yang disebut bad self image. Ternyata image itu bukan hanya untuk perusahaan saja, diri kita juga perlu brand image, perlu citra. Setiap orang perlu citra. Tapi, kalau citra yang sudah terbentuk dalam diri kita adalah negatif, akan sulit buat kita untuk maju ke depan.
Bad self image ini muncul dari lingkungan yang paling dekat dengan Anda, keluarga, ini yang paling dominan. Berdasarkan suatu penelitian, yang bisa mengubah dan menciptakan image seseorang adalah dari kehidupan di rumah Anda. The first school is at home and the first teacher is mother ‘sekolah pertama untuk Anda itu adalah di rumah dan guru pertama yang paling baik itu adalah ibu Anda sendiri di rumah’. Keluarga inilah yang akan membentuk brand image ini positif atau negatif.
Para insan sejati, pernahkah Anda mengalami satu situasi ketika Anda masih sekolah di SD lalu Anda mendapatkan rapor dan Anda pada waktu itu agak kaget karena dari rapor Anda banyak yang merah dibandingkan yang bukan merah kemudian Anda mendapat ranking di bawah 20. Anda malu untuk menyerahkan rapor ini kepada orang tua Anda. Akhirnya Anda terpaksa menyerahkan. Apa ekspresi wajah orang tua Anda ketika melihat rapor Anda itu jelek? Tanpa disadari muncullah kata-kata, “Memang kamu ini orang yang bodoh, kamu tuh tidak pintar, tidak seperti kakak kamu.” Masuklah kata-kata tadi ke dalam pikiran kita dan itu terjadi berulang-ulang dalam kehidupan Anda, “You are stupid, Anda bodoh. Anda tidak pintar, Anda goblok,” dan segala macam bentuk istilah-istilah yang lain. Dan, istilah yang lebih kasar daripada itu masuk ke dalam pikiran Anda. Lalu, tanpa sadar itu membentuk satu rekaman yang sangat luar biasa di dalam otak Anda. Akhirnya, ketika Anda menjadi dewasa, Anda punya satu label, maaf, seolah-olah di atas jidat Anda tertulis kata-kata, “I am a stupid, saya adalah orang yang bodoh, saya adalah orang yang tidak pandai.” Ketika Anda berusaha untuk pintar atau maju, maka Anda selalu dihinggapi oleh perasaan, “I am stupid, saya adalah orang yang bodoh.” Itu yang saya maksud dengan bad self image.
Kalau sebuah perusahaan mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk memperbaiki citra merek perusahaan, how to create brand image, bagaimana menciptakan brand image sebuah perusahaan. Saya punya beberapa kawan yang menjadi konsultan di bidang brand image, nilai proyeknya luar biasa. Ada yang 10 miliar, ada yang 20 miliar, hanya untuk mengubah logo atau untuk mengubah semboyan. Hanya untuk mengubah moto atau warna, mereka habiskan dana yang cukup besar. Tapi, apakah Anda terpikir untuk mengeluarkan selain dana, melainkan pikiran dan waktu Anda untuk mengubah self image Anda yang sudah negatif tadi? Pernahkah kita terpikir untuk investasikan waktu kita, tenaga kita, dan pikiran kita untuk mengubah image kita yang negatif di mata orang atau di mata kita sendiri?
Ini hal pertama yang menyebabkan Anda bisa mengalami lesu, letih, loyo, lemah dan sebagainya. Karena bad self image, ada citra diri yang negatif. Kita harus jauhi citra diri yang negative. Marilah kita bangun dengan self image yang positif. Itu yang pertama.
Kita lihat yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience, pengalaman buruk atau dalam dunia psikologi disebut dengan traumatic syndrome. Pernah Anda mengalami traumatic syndrome? Mungkin ada beberapa contoh kasus yang bisa saya sampaikan di sini. Salah satunya apa yang disebut dengan istilah, maaf, sexual harrasment atau sexual abussment. Pernah Anda membaca sebuah berita atau artikel di satu koran atau majalah, seorang anak gadis, maaf, diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Ketika dewasa mungkin ia akan mengalami apa yang disebut dengan traumatic syndrome. Dia merasa dirinya sudah tidak punya nilai apa-apa, “Apalah artinya saya, saya pernah mengalami sexual harassment atau sexual abussment dari orang tua saya, dari ayah kandungnya sendiri.”
Setiap orang pasti mendapatkan musibah, tinggal bagaimana kita menilai peristiwa itu, positif atau negatif, karena Tuhan berfirman dalam surah Ali Imran ayat 191, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, dan selamatkanlah kami dari api neraka.” Apa pun musibah yang menimpa kita, walaupun kita tidak siap menerima musibah itu, pada dasarnya itu tidak ada yang sia-sia, semua itu ada manfaatnya, ada hikmahnya. Kata orang bijak, ada hikmah di balik itu semua.
Jadi itu yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience. Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah anak Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah pasangan hidup Anda mengalami pengalaman buruk seperti itu? Kalau iya, itu akan menyebabkan 4L tadi: Letih, Lesu, Loyo, dan Lemah. Karena bad experience tadi, pengalaman buruk menimpa Anda. Dan, bentuknya pada setiap orang itu berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi, tergantung bagaimana Allah memberikan kepada dia, Karena Allah selalu mempunyai satu skenario yang beraneka ragam pada setiap manusia, that’s a miracle of life, itulah misteri kehidupan, itu hal yang sangat luar biasa.
Kita masuk kepada penyebab yang ketiga dari 4L tadi. Bad partner. Ketika Anda salah memilih teman, Anda salah memilih pasangan, maka ini akan mengakibatkan Anda mengalami powerless. Ada satu ungkapan seorang filsuf, “Sebutkan teman-teman Anda, saya akan tebak siapa diri Anda.” Ketika Anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa diri Anda sebenarnya. Kalau Anda terbiasa berteman dengan teman-teman yang negatif, maka Anda akan menjadi negatif juga. Ketika Anda biasa berteman dengan yang positif, maka Anda pun akan berpikir positif juga. Ini bisa menjadi penyebab Anda untuk mengalami powerless tadi, bad partner, Anda tidak pandai memilih teman.
Para insan sejati, di dalam salah satu nasihat nabi kita Muhammad saw., ada satu parameter yang membantu kita untuk bisa memilih teman yang baik itu seperti apa sih sebenarnya. Teman di sini maksudnya luas, bisa teman kehidupan, cara memilih suami atau istri. Atau teman dalam arti orang kepercayaan, kalau Anda seorang pimpinan maka Anda perlu orang kepercayaan. Bisa bermacam-macam bentuknya. Nabi Muhammad saw. memberi satu patokan bagaimana memilih teman yang baik. Kata beliau, ketika kita sudah ingin memilih seorang teman, maka engkau harus melihat pada 3 aspek. Yang pertama, sudahkah Anda bermalam di rumahnya, dalam arti positif tentu saja. Karena setiap orang itu akan berbeda penampilannya pada saat di luar rumah dan di dalam rumah. Yang kedua kata Nabi, sudahkah engkau musafir (bepergian jauh) bersamanya. Yang ketiga, sudahkah Anda mengadakan transaksi bisnis bersama dia, sudahkah Anda melakukan muamalah dengan dia. Banyak orang yang jujur dalam keseharian, tetapi begitu bicara masalah bisnis atau uang, kadang-kadang perubahan sikap itu akan terjadi.
Oke, kita lihat penyebab yang keempat dari 4L yakni bad environment, lingkungan yang buruk, al-biah assayyiah. Para insan sejati, tidak cukup hanya sekadar teman yang baik, kita membutuhkan sebuah komunitas. Katakanlah Anda sekarang memiliki satu motivasi yang kuat untuk maju, Anda optimis, Anda positive thinking, tapi kalau Anda berada dalam satu lingkungan yang negatif, lama-lama Anda akan mengalami satu kontaminasi, nilai-nilai kebaikan Anda akan luntur dan hilang. Kenapa? Terlalu banyak dominansi lingkungan terhadap diri Anda. Atau sebaliknya, kalau kita berada dalam lingkungan yang positif, walaupun kita awalnya negatif, masuk ke dalam lingkungan yang positif, kita akan terkontaminasi yang positif juga, kita akan tertular yang positif juga.
Jadi, pemilihan lingkungan sangat penting sekali. Itulah sebabnya di dalam Islam ada yang namanya konsep hijrah. Saya memahami hijrah ini bukan hanya satu aspek, tapi bagaimana kita melihat hijrah ini dalam 2 aspek. Hijrah secara fisik dan hijrah secara mental. Kita tidak hanya perlu hijrah secara fisik, tapi juga hijrah secara mental.
Untuk menjadi baik tidak cukup hanya sekadar perubahan secara spiritual, tapi kita juga harus memilih lingkungan yang baik, pilihkan anak-anak kita dengan lingkungan yang baik, sekolah yang baik, tempat tinggal yang baik, pilihkan suami atau istri kita dengan lingkungan rumah tangga yang baik. Kita bentuk suasana rumah tangga itu rumah tangga yang ideal. Pilihlah untuk masyarakat kita suatu komunitas yang baik, pilihlah untuk rakyat kita lingkungan bangsa yang baik. Kalau semua sudah dibingkai dengan lingkungan yang baik, maka insya Allah kita tidak akan terjebak terhadap penyebab terjadinya 4L (Letih, Lesu, Lelah, dan Lemah) seperti bad partner, bad self image, bad experience, dan traumatic syndrome.
Para insan sejati, saya akhiri pembahasan masalah ini dengan pepatah Nothing is impossible, everything is possible if you believe in Allah. Tidak ada yang mustahil di muka bumi ini kalau Anda percaya kepada Allah.*
Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah
Ustadz Abu Sa’ad al-Wa’izh berkata, “Pada prinsipnya mimpi yang baik itu bersumber dari aneka amal yang benar dan mengingatkan akan aneka akibat dari berbagai urusan. Dari mimpi yang baik itu muncullah aneka perintah, larangan, berita gembira, dan peringatan. Dikatakan demikian karena mimpi yang baik merupakan sisa dan bagian dari kenabian, bahkan ia merupakan satu dari dua bagian kenabian, sebab ada nabi yang wahyunya berupa mimpi. Orang yang menerima wahyu melalui mimpi disebut Nabi. Adapun orang yang menerima ucapan malaikat saat dia terjaga disebut Rasul. Inilah yang membedakan antara nabi dan rasul.”
Abu Ali Hamid bin Muhammad bin Abdullah ar-Rafa` memberitahukan kepada kami, dari Muhammad ibnul-Mughirah, dari Makki bin Ibrahim, dari Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Jika masa semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ada tiga macam: mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla, mimpi seorang muslim yang dialami oleh dirinya sendiri, dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian shalatlah.” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau bersabda,
“Aku menyukai mimpi ihwal rantai, tetapi tidak menyukai mimpi ihwal belenggu.” (Shahih al-Jami’)
Rantai ditakwilkan dengan keteguhan pada agama.
Abu Abdullah al-Mahlabi dan Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf menceritakan kepada kami dari al-‘Abbas ibnul-Walid bin Mazid, dari ‘Uqbah bin ‘Alqamah al-Mu’arifi, dari al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abi Salamah bin Abdurrahman, dari ‘Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia bertanya kepada Rasulullah tentang ayat 63-63 surah Yunus, “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat.” Maka, Rasulullah menjawab,
“Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu kepadaku yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun selainmu. Al-busyra ialah mimpi yang baik yang dialami oleh seseorang atau dianugerahkan Allah kepadanya.” (As-Silsilah ash-Shahihah)
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Hadits-hadits yang kami riwayatkan tersebut menunjukkan bahwa mimpi itu memang sesuatu yang benar secara substansial dan bahwa mimpi itu memiliki ketentuan dan dampak.”
Di antara dalil yang menunjukkan kebenaran mimpi ialah bahwa saat Ibrahim tidur, Allah memperlihatkan kepadanya seolah-olah dia menyembelih putranya. Setelah bangun, dia pun melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya saat tidur. Allah Ta’ala mengisahkan kejadian tersebut,
“Maka tatkala anak itu mencapai kesanggupan berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (ash-Shaaffat: 102)
Setelah Ibrahim a.s. memahami mimpinya dan berupaya melaksanakannya, lalu Allah memberinya jalan keluar karena kasih-sayang-Nya, dia mengetahui bahwa mimpi itu merupakan hukum. Demikian pula halnya dengan mimpi yang dialami Yusuf a.s., yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur`an sebagai kisah yang populer dan terkenal.
Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami dari Ali bin Muhammad al-Waraq, dari Ahmad bin Muhammad bin Nashr, dari Yusuf bin Bilal, dari Muhammad bin Marwan al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas bahwa Aisyah berkata, “Rasulullah terkena sihir. Maka, beliau jatuh sakit, sehingga kami mengkhawatirkannya. Ketika beliau berada antara tidur dan terjaga, tiba-tiba turun dua malaikat: yang satu berada di dekat kepala Rasulullah dan yang lain berada di dekat kaki beliau. Malaikat yang berada dekat kepala berkata kepada malaikat yang berada dekat kaki, ‘Mengapa dia sakit?’ Malaikat bertanya demikian supaya Nabi saw. memahami persoalannya.
Temannya menjawab, ‘Terkena sihir.’
‘Siapa yang melakukannya?’
‘Lubaid bin A’sham, orang Yahudi.’
‘Di mana dia melakukannya?’
‘Di sumur Dzarwan.’
‘Bagaimana mengobatinya?’
‘Kirimlah orang ke sumur itu dan keringkan airnya. Jika tampak sebuah batu besar, singkirkanlah karena di bawahnya terdapat tali busur yang berpintal sebelas dan diletakkan di dalam kantong. Setelah itu bakarlah ia. Insya Allah dia sembuh. Jika dia menyuruh orang, hendaknya dia mengeluarkan kantong itu.’”
Ibnu Abbas melanjutkan, “Nabi pun bangun dan beliau telah memahami apa yang dikatakan kepadanya oleh malaikat. Beliau menyuruh ‘Ammar bin Yasir dan sekelompok sahabatnya ke sumur tersebut yang airnya telah berubah seperti inai. Kemudian sumur itu dikeringkan. Setelah tampak batu besar, ia pun digulingkan, dan tampaklah di bawahnya kantong yang berisikan tali busur bersimpul sebelas. Kemudian mereka membawanya kepada Rasulullah. Maka, turunlah surah al-Falaq dan surah an-Naas. Kedua surah ini berjumlah 11 ayat dan sama dengan banyaknya buhul yang berjumlah 11 pula. Setiap kali beliau membaca satu ayat, lepaslah satu buhul. Setelah seluruh buhulnya terbuka, Rasulullah dapat bangkit dan seolah-olah terlepas dari ikatan. Buhul itu pun dibakar. Nabi menyuruh kita berlindung kepada Allah melalui kedua surah tersebut. Lubaid mengunjungi Rasulullah. Meskipun beliau menceritakan kejadian di atas, pada wajah Lubaid tidak tampak perubahan apa pun.”
Hadits di atas menunjukkan kebenaran masalah mimpi dan keberadaannya di dalam banyak hadits, sehingga terlampau panjang untuk menceritakannya.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Aku melihat bahwa ilmu itu terdiri atas beberapa jenis, di antaranya ada yang bermanfaat bagi dunia, tetapi tidak bermanfaat bagi agama; ada yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Ilmu tentang mimpi termasuk ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Kemudian aku shalat istikharah sebelum mengumpulkan apa yang berasal dari Allah dan menempuh metode peringkasan seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam menyempurnakan apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Juga berlindung kepada-Nya dari ujian dan fitnah-Nya. Allahlah Pemilik taufik. Cukuplah Dia bagi kami. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Orang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Nabi bersabda dalam hadits muttafaq alaih, ‘Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.’”
Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad saw.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi saw. menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa,
“Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)
Mimpi terbagi dua: mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang dialami manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca sedang seperti ditandai oleh bergoyangnya pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan. Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi. Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid.
Adapun mimpi yang batil ialah yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, keinginan, dan hasrat. Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi lain yang mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena tidak mengandung makna. Sama halnya dengan mimpi yang menakutkan dan menyedihkan karena berasal dari setan. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicarana itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” (al-Mujaadilah: 10)
Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Pelaku mimpi hendaknya memelihara etika yang perlu dipegang teguh dan memiliki batasan-batasan yang selayaknya tidak dilampaui. Demikian pula halnya dengan pentakwil.”
Etika pelaku mimpi ialah, pertama, dia tidak menceritakan mimpinya kepada orang yang hasud sebagaimana dikatakan Ya’kub kepada Yusuf,
“Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu.’” (Yusuf: 5)
Kedua, jangan menceritakan mimpinya kepada orang yang bodoh. Nabi saw. bersabda, “Janganlah kamu menceritakan mimpimu kecuali kepada orang yang dicintai atau kepada orang yang pandai.”
Ketiga, janganlah menceritakan mimpi kecuali secara rahasia karena dia pun melihatnya secara rahasia pula. Jangan menceritakannya kepada anak-anak dan wanita. Sebaiknya mimpi itu diceritakan menjelang awal tahun dan pada pagi hari, bukan sesudah keduanya lewat.
Adapun etika pentakwil ialah sebagai berikut.
Pertama, jika saudaranya menceritakan mimpi kepadanya, maka katakanlah, “Aku kira mimpi itu baik.”
Kedua, hendaknya menakwilkan mimpi dengan cara yang paling baik. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Mimpi akan terjadi sebagaimana ia ditakwilkan.” Juga diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Mimpi itu bagaikan kaki yang menggantung selama belum diungkapkan. Jika telah diungkapkan, maka terjadilah.” Demikian yang disebut dalam as-Silsilah ash-Shahihah.
Ketiga, menyimak mimpi dengan baik, kemudian menjawab si penanya dengan jawaban yang mudah dipahami.
Keempat, jangan tergesa-gesa menakwilkan mimpi. Lakukanlah dengan hati-hati.
Kelima, menyembunyikan mimpi dan tidak menyebarkannya sebab ia merupakan amanat. Jangan menakwilkan mimpi ketika matahari terbit, ketika tergelincir, dan ketika terbenam.
Keenam, memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda. Janganlah menakwilkan mimpi raja seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya.
Ketujuh, merenungkan mimpi yang dikemukakan kepadanya. Jika mimpi itu baik, maka takwilkanlah dan sampaikanlah kabar gembira kepada pelakunya sebelum mimpi itu ditakwilkan. Jika mimpi itu buruk, maka janganlah menakwillkannya atau takwilkanlah bagian mimpi yang takwilnya paling baik. Jika sebagian mimpi itu merupakan kebaikan dan sebagian lagi keburukan, maka bandingkanlah keduanya, lalu ambillah mimpi yang paling tepat dan paling kuat pokoknya. Jika pentakwil mengalami kesulitan, bertanyalah kepada pelaku mimpi ihwal namanya, lalu takwilkannya berdasarkan namanya itu.
Paparan singkat ini cukup kaya bagi orang yang mau merenungkannya dan mencermati maknanya. Kalaulah kami memaparkannya secara panjang lebar, niscaya menimbulkan kebosanan dan kejemuan. Kami berharap kepada Allah Ta’ala kiranya buku ini bermanfaat bagi kita dan kiranya Dia melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, perut yang tidak pernah kenyang, nafsu yang tidak mau tunduk, doa yang tidak diterima, tabiat yang menyeret kepada ketamakan, dan ketamakan yang tidak pernah berakhir. Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya, serta Maha melakukan apa yang dituju-Nya. Cukuplah bagiku Allah. Dialah sebaik-baik Pelindung.
Abu Ali Hamid bin Muhammad bin Abdullah ar-Rafa` memberitahukan kepada kami, dari Muhammad ibnul-Mughirah, dari Makki bin Ibrahim, dari Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Jika masa semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ada tiga macam: mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla, mimpi seorang muslim yang dialami oleh dirinya sendiri, dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian shalatlah.” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau bersabda,
“Aku menyukai mimpi ihwal rantai, tetapi tidak menyukai mimpi ihwal belenggu.” (Shahih al-Jami’)
Rantai ditakwilkan dengan keteguhan pada agama.
Abu Abdullah al-Mahlabi dan Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf menceritakan kepada kami dari al-‘Abbas ibnul-Walid bin Mazid, dari ‘Uqbah bin ‘Alqamah al-Mu’arifi, dari al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abi Salamah bin Abdurrahman, dari ‘Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia bertanya kepada Rasulullah tentang ayat 63-63 surah Yunus, “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat.” Maka, Rasulullah menjawab,
“Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu kepadaku yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun selainmu. Al-busyra ialah mimpi yang baik yang dialami oleh seseorang atau dianugerahkan Allah kepadanya.” (As-Silsilah ash-Shahihah)
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Hadits-hadits yang kami riwayatkan tersebut menunjukkan bahwa mimpi itu memang sesuatu yang benar secara substansial dan bahwa mimpi itu memiliki ketentuan dan dampak.”
Di antara dalil yang menunjukkan kebenaran mimpi ialah bahwa saat Ibrahim tidur, Allah memperlihatkan kepadanya seolah-olah dia menyembelih putranya. Setelah bangun, dia pun melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya saat tidur. Allah Ta’ala mengisahkan kejadian tersebut,
“Maka tatkala anak itu mencapai kesanggupan berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (ash-Shaaffat: 102)
Setelah Ibrahim a.s. memahami mimpinya dan berupaya melaksanakannya, lalu Allah memberinya jalan keluar karena kasih-sayang-Nya, dia mengetahui bahwa mimpi itu merupakan hukum. Demikian pula halnya dengan mimpi yang dialami Yusuf a.s., yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur`an sebagai kisah yang populer dan terkenal.
Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami dari Ali bin Muhammad al-Waraq, dari Ahmad bin Muhammad bin Nashr, dari Yusuf bin Bilal, dari Muhammad bin Marwan al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas bahwa Aisyah berkata, “Rasulullah terkena sihir. Maka, beliau jatuh sakit, sehingga kami mengkhawatirkannya. Ketika beliau berada antara tidur dan terjaga, tiba-tiba turun dua malaikat: yang satu berada di dekat kepala Rasulullah dan yang lain berada di dekat kaki beliau. Malaikat yang berada dekat kepala berkata kepada malaikat yang berada dekat kaki, ‘Mengapa dia sakit?’ Malaikat bertanya demikian supaya Nabi saw. memahami persoalannya.
Temannya menjawab, ‘Terkena sihir.’
‘Siapa yang melakukannya?’
‘Lubaid bin A’sham, orang Yahudi.’
‘Di mana dia melakukannya?’
‘Di sumur Dzarwan.’
‘Bagaimana mengobatinya?’
‘Kirimlah orang ke sumur itu dan keringkan airnya. Jika tampak sebuah batu besar, singkirkanlah karena di bawahnya terdapat tali busur yang berpintal sebelas dan diletakkan di dalam kantong. Setelah itu bakarlah ia. Insya Allah dia sembuh. Jika dia menyuruh orang, hendaknya dia mengeluarkan kantong itu.’”
Ibnu Abbas melanjutkan, “Nabi pun bangun dan beliau telah memahami apa yang dikatakan kepadanya oleh malaikat. Beliau menyuruh ‘Ammar bin Yasir dan sekelompok sahabatnya ke sumur tersebut yang airnya telah berubah seperti inai. Kemudian sumur itu dikeringkan. Setelah tampak batu besar, ia pun digulingkan, dan tampaklah di bawahnya kantong yang berisikan tali busur bersimpul sebelas. Kemudian mereka membawanya kepada Rasulullah. Maka, turunlah surah al-Falaq dan surah an-Naas. Kedua surah ini berjumlah 11 ayat dan sama dengan banyaknya buhul yang berjumlah 11 pula. Setiap kali beliau membaca satu ayat, lepaslah satu buhul. Setelah seluruh buhulnya terbuka, Rasulullah dapat bangkit dan seolah-olah terlepas dari ikatan. Buhul itu pun dibakar. Nabi menyuruh kita berlindung kepada Allah melalui kedua surah tersebut. Lubaid mengunjungi Rasulullah. Meskipun beliau menceritakan kejadian di atas, pada wajah Lubaid tidak tampak perubahan apa pun.”
Hadits di atas menunjukkan kebenaran masalah mimpi dan keberadaannya di dalam banyak hadits, sehingga terlampau panjang untuk menceritakannya.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Aku melihat bahwa ilmu itu terdiri atas beberapa jenis, di antaranya ada yang bermanfaat bagi dunia, tetapi tidak bermanfaat bagi agama; ada yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Ilmu tentang mimpi termasuk ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Kemudian aku shalat istikharah sebelum mengumpulkan apa yang berasal dari Allah dan menempuh metode peringkasan seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam menyempurnakan apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Juga berlindung kepada-Nya dari ujian dan fitnah-Nya. Allahlah Pemilik taufik. Cukuplah Dia bagi kami. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Orang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Nabi bersabda dalam hadits muttafaq alaih, ‘Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.’”
Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad saw.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi saw. menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa,
“Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)
Mimpi terbagi dua: mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang dialami manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca sedang seperti ditandai oleh bergoyangnya pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan. Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi. Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid.
Adapun mimpi yang batil ialah yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, keinginan, dan hasrat. Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi lain yang mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena tidak mengandung makna. Sama halnya dengan mimpi yang menakutkan dan menyedihkan karena berasal dari setan. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicarana itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” (al-Mujaadilah: 10)
Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Pelaku mimpi hendaknya memelihara etika yang perlu dipegang teguh dan memiliki batasan-batasan yang selayaknya tidak dilampaui. Demikian pula halnya dengan pentakwil.”
Etika pelaku mimpi ialah, pertama, dia tidak menceritakan mimpinya kepada orang yang hasud sebagaimana dikatakan Ya’kub kepada Yusuf,
“Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu.’” (Yusuf: 5)
Kedua, jangan menceritakan mimpinya kepada orang yang bodoh. Nabi saw. bersabda, “Janganlah kamu menceritakan mimpimu kecuali kepada orang yang dicintai atau kepada orang yang pandai.”
Ketiga, janganlah menceritakan mimpi kecuali secara rahasia karena dia pun melihatnya secara rahasia pula. Jangan menceritakannya kepada anak-anak dan wanita. Sebaiknya mimpi itu diceritakan menjelang awal tahun dan pada pagi hari, bukan sesudah keduanya lewat.
Adapun etika pentakwil ialah sebagai berikut.
Pertama, jika saudaranya menceritakan mimpi kepadanya, maka katakanlah, “Aku kira mimpi itu baik.”
Kedua, hendaknya menakwilkan mimpi dengan cara yang paling baik. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Mimpi akan terjadi sebagaimana ia ditakwilkan.” Juga diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Mimpi itu bagaikan kaki yang menggantung selama belum diungkapkan. Jika telah diungkapkan, maka terjadilah.” Demikian yang disebut dalam as-Silsilah ash-Shahihah.
Ketiga, menyimak mimpi dengan baik, kemudian menjawab si penanya dengan jawaban yang mudah dipahami.
Keempat, jangan tergesa-gesa menakwilkan mimpi. Lakukanlah dengan hati-hati.
Kelima, menyembunyikan mimpi dan tidak menyebarkannya sebab ia merupakan amanat. Jangan menakwilkan mimpi ketika matahari terbit, ketika tergelincir, dan ketika terbenam.
Keenam, memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda. Janganlah menakwilkan mimpi raja seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya.
Ketujuh, merenungkan mimpi yang dikemukakan kepadanya. Jika mimpi itu baik, maka takwilkanlah dan sampaikanlah kabar gembira kepada pelakunya sebelum mimpi itu ditakwilkan. Jika mimpi itu buruk, maka janganlah menakwillkannya atau takwilkanlah bagian mimpi yang takwilnya paling baik. Jika sebagian mimpi itu merupakan kebaikan dan sebagian lagi keburukan, maka bandingkanlah keduanya, lalu ambillah mimpi yang paling tepat dan paling kuat pokoknya. Jika pentakwil mengalami kesulitan, bertanyalah kepada pelaku mimpi ihwal namanya, lalu takwilkannya berdasarkan namanya itu.
Paparan singkat ini cukup kaya bagi orang yang mau merenungkannya dan mencermati maknanya. Kalaulah kami memaparkannya secara panjang lebar, niscaya menimbulkan kebosanan dan kejemuan. Kami berharap kepada Allah Ta’ala kiranya buku ini bermanfaat bagi kita dan kiranya Dia melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, perut yang tidak pernah kenyang, nafsu yang tidak mau tunduk, doa yang tidak diterima, tabiat yang menyeret kepada ketamakan, dan ketamakan yang tidak pernah berakhir. Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya, serta Maha melakukan apa yang dituju-Nya. Cukuplah bagiku Allah. Dialah sebaik-baik Pelindung.
Madrasah Pendidikan Jiwa
Beberapa metode pendidikan jiwa yang dilakukan oleh tabi’in, yaitu sebagai berikut.
1. Takut kepada Allah dan Menahan Jiwa dari Maksiat
Allah swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (an-Naazi’aat: 40—41)
Imam Qurthubi menuturkan perkataan Mujahid untuk mengomentari firman Allah pada ayat ini, “Yaitu takutnya di dunia kepada Allah azza wajalla ketika berada di lembah-lembah dosa dan ia terperosok di dalamnya. ‘Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu’, yaitu menahan dari maksiat-maksiat dan hal-hal yang diharamkan.”
Hawa nafsu yang ganas dan keras menutupi fungsi akal dan mengendalikannya. Dibutuhkan kekuatan yang besar untuk menghancurkannya, yang berpusat pada takut kepada Allah, takut dengan terbukanya segala kesalahan di hari kiamat, takut dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Demikianlah bagaimana para tabi’in mendidik jiwa mereka dan mengikutinya dengan takut kepada Allah, bersama dengan itu disertai rajaa` ‘mengharap’ ampunan dan rahmat-Nya. Dan hal itu terealisasi dengan mempelajari ilmu-ilmu tentang akhirat; mulai permasalahan alam kubur sampai masuk tempat akhir: surga atau neraka. Pembelajaran yang terperinci terhadap hal-hal yang berhubungan dengan akhirat membantu untuk menanamkan rasa takut di dalam jiwa.
2. Membentuk Jiwa yang Sabar
Allah swt. berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”(al-Kahfi: 28)
Jiwa asalnya cenderung menyuruh kepada kejahatan, dan di antara karakteristiknya enggan beriltizam dan terikat, tetapi senang berpindah-pindah dan lepas dari kendali, walau kendali itu bermanfaat baginya di akhirat. Jiwa juga tidak suka diperintah seseorang terhadap yang dibencinya, atau membatasi gerakannya. Oleh karenanya, ia memberi kecintaan pada pemiliknya untuk santai dan berleha-leha.
Diriwayatkan dari Imam Basyar al-Hafi r.a., ia berjalan bersama seseorang di jalan, kemudian temannya itu merasa haus, maka ia berkata kepadanya, “Kita minum dari air sumur ini?” Maka Imam Basyar berkata, “Sabarlah sampai sumur yang lain.” Dan ketika mereka sampai di sumur yang dimaksud, Basyar berkata kepadanya lagi, “Nanti sampai sumur yang lain.” Dan ia terus mengulanginya. Kemudian ia menoleh kepada temannya itu dan berkata, “Demikianlah kita memutuskan dunia.”
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari kejadian ini dengan berkata, “Siapa yang memahami keberadaan ini, ia akan mengungkapkan alasan untuk tidak melakukan sesuatu dan berlemah lembut kepadanya, dan menjanjikan yang indah untuk menjadikan kesabaran atas apa yang telah diemban. Sebagaimana beberapa ulama salaf mengatakan kepada jiwanya yang menyuruh kepada yang jahat, ‘Demi Allah aku tidak ingin melarangmu dari yang kamu sukai ini kecuali karena ingin mengendalikan keinginanmu yang buruk.’”
Pengendalian ini merupakan azab Allah ta’ala terhadap hawa nafsu. Dan ini adalah salah satu faktor yang mendorong para sahabat r.a., kemudian para tabi’in untuk memerangi jiwa, dari yang tidak disenangi dengan larangan, terhadap apa yang dikehendaki dan dicintai hawa nafsu.
3. Mengendalikan Nafsu
Nabi saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka ditutupi dengan syahwat-syahwat.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Bukhari, surga seolah menjadi tertutup dengan hijab, dan hijab ini bukan dari kulit atau sutera atau jenis-jenis kain penutup lainnya, tetapi ia terhijab dari hal-hal yang dibenci. Oleh karenanya, itu bukan satu penutup tetapi banyak. Dan hijab yang beragam dengan corak-corak yang beragam, serta warna-warni yang berbeda, karena pada setiap musibah ada warna tersendiri, pada setiap ujian ada corak tersendiri. Maka, tidak mungkin seorang mukmin sampai ke surga, kecuali dengan menyingkap hijab-hijab ini seluruhnya.
Penyingkapan hijab-hijab itu terkadang membutuhkan waktu yang lama. Secara tersendiri, ini adalah usaha “mengendalikan jiwa” yang terkadang melenceng di sepanjang jalan. Dan sulitnya menyingkap hijab-hijab dari hal-hal yang dibenci ini, acap kali mendorong pemiliknya untuk bermalasan dan santai. Ridha terhadap aib yang ada pada jiwa mereka dan atas apa yang diajukan untuk akhirat, tanpa adanya tambahan.
Pengendalian tidak disukai jiwa dan juga tidak selaras dengannya, tetapi kita tidak mempunyai pilihan lain, kecuali melakukan metode ini, jika kita menginginkan barang dagangan Allah yang mahal (surga), walau jiwa kita tidak biasa mengikuti metode ini; sebagaimana jiwa-jiwa generasi pertama dan para tabi’in yang terbiasa pada kebaikan; sebagaimana ditunjukkan Imam yang konsiten, Amirul Mukminin dalam ilmu hadits, Abdullah ibnul Mubarak ketika ia berkata, “Orang-orang saleh pada masa lalu, jiwa mereka selalu mengikuti kebaikan dengan sendirinya, sedangkan jiwa kita hampir selalu mengikuti yang dibenci. Oleh karenanya, kita harus membenci jiwa yang mengajak kepada yang dibenci.”
4. Menjaga dari Sifat Kikir
Allah swt. berfirman, “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)
Imam al-Qurthubi berkata, “Kikir dan bakhil (asy-syukh dan al-bukhl) adalah sama. Beberapa ahli linguistik mengatakan bahwa kikir (asy-syukh) lebih keras daripada bakhil (al-bukhl).” Namun yang benar, “Kikir adalah bakhil dengan sangat tamak. Dan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kikir dengan zakat yang bukan wajib, seperti silaturahmi, menghormati tamu, dan yang sejenis dengan itu. Dan bukan termasuk kikir atau bakhil yang menginfakkan untuk hal itu. Dan barangsiapa yang merasa luas jiwanya dan tidak berinfak terhadap apa yang telah kami tuturkan dari zakat-zakat dan ketaatan-ketaatan tersebut, maka ia tidak dipelihara dari kekikiran.”
Dengan pemahaman yang menyeluruh ini, Imam al-Qurthubi mendefinisikan kikir. Jika demikian, kikir tidak seperti yang dipahami orang-orang bahwasanya kata mereka ia adalah khusus yang diinfakkan manusia pada zakat yang wajib, dan sedekah kepada orang-orang fakir dan miskin serta orang-orang yang membutuhkan, tetapi ia menyeluruh, meliputi infak dalam ketaatan-ketaatan dengan seluruh jenisnya. Dan, yang paling buruk dari jenis ini adalah kekikiran jiwa pada larangannya untuk mengerjakan amal-amal ketaatan yang dapat mendekatkannya menuju surga.
Dan kikir termasuk sifat utama jiwa, yaitu jiwa yang menahan pemiliknya dari segala yang mendekatkan kepada Allah swt. dan yang mengantarkannya ke surga. Juga sebaliknya, ia tidak mencegah pemiliknya untuk memberikan pada syahwat dan hawa nafsu yang menjauhkan dari Allah ta’ala, serta untuk mendekati neraka-Nya. Dan barangsiapa yang mampu melawan dan mengalahkan atas apa yang diinginkan dari keengganan melakukan amal-amal kebaikan, ini akan menyampaikannya kepada rahmat Allah menuju surga dan ia termasuk orang-orang yang menang.
5. Tawakal
Dari Muhammad bin Abi Imran berkata, “Aku mendengar Hatim yang tidak dapat mendengar ditanya seseorang, ‘Dengan apa engkau membangun perkaramu dalam bertawakal kepada Allah?’ Ia berkata, ‘Pada hal-hal berikut: aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh selainku, maka tenanglah jiwaku; Aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh selainku, maka aku sibuk dengannya; Aku tahu kematian pasti mendatangiku kapan saja, maka aku berisap-siap untuk itu; Aku tahu, aku tidak pernah lepas dari pandangan Allah di mana pun aku berada, maka aku malu kepada-Nya jika terlihat sedang melakukan maksiat.’”
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna tawakal. Namun, pendapat mereka semua bermakna menyerahkan segala sesuatu kepada Allah ta’ala dan dengan keyakinan atas kekuasaan-Nya dapat memenuhinya, juga dengan menampakkan sebab-sebab untuk mendapatkan sesuatu yang dimaksud (ikhtiar), serta melepaskan diri dari bergantung pada sebab-sebab itu, dan bergantung pada yang menjadikan sebab-sebab itu, Dialah Allah ta’ala. Empat hal yang dituturkan seorang zahid, Abi Hatim yang tidak dapat mendengar, adalah bukan definisi tawakal, tapi itu adalah dasar budi pekerti yang dibangun ulama dalam hal tawakal.
6. Introspeksi Diri
a. Menghinakan Jiwa yang Menyuruh pada Kejahatan
Introspeksi ini tidak mungkin dimulai tanpa perhatian dan siaga terhadap gerak-gerik jiwa ini. Menghinakannya sebelum dihinakan oleh orang-orang lain dan sebelum mencari aib-aib mereka. Dan, ini adalah pintu masuk untuk mengintrospeksi jiwa yang diperingatkan seorang zahid, ahli ibadah, Abu Sulaiman ad-Darani, ketika ia ditanya Ahmad bin Abil Hiwari: “Fulan dan si fulan tidak berada dalam hatiku (baca: tidak aku sukai).” Ahmad bin Abil Hiwari berkata, “Dan tidak pula pada hatiku. Tetapi semoga kita datang dari hatiku dan hatimu; dan kita tidak mempunyai kebaikan dan bukannya kita tidak mencintai orang-orang saleh.”
b. Musuh yang Bodoh
Kalau Imam ad-Darani memperingatkan Ibnu Abil Hiwari saja, Yahya bin Mu’adz memperingatkan sekelompok pengikutnya dengan keteladanan, di mana ia berkata kepada mereka, ”Di antara kebahagian manusia adalah memberikan pemahaman kepada musuhnya, tapi musuhku tidak mempunyai pemahaman.” Dikatakan kepadanya, “Siapakah musuhmu?” Ia menjawab, “Jiwaku yang menjual surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi dengan syahwat yang hanya sesaat.”
Musuh yang bodoh ini berbahaya bagi jiwa, ketika menghiasi manusia dengan kepalsuan dunia, menghiasi dan mempermudah untuk melakukan syahwat-syhawat, serta meremehkan hakikat suatu kejahatan. Inilah peperangan seorang mukmin dengan jiwanya yang menyuruh berlaku jahat dan yang melupakannya terhadap nikmat-nikmat surga, juga menutup mata kepadanya, dan mengutamakan baginya kenikmatan dunia yang sementara.
c. Selalu Siaga
Ia menghinakan jiwanya dalam setiap keadaan dan tidak meninggalkan tempat bernafas yang ia bisa bernapas di dalamnya. Tidak juga memberi kesempatan untuk berburu di dalamnya dan menutup seluruh sektor-sektor yang luas di mana jiwa dapat berkeliling dan mendapatkan tempat untuk melakukan kejahatan. Namun, generasi sekarang tidak mempunyai kesiagaan seperti generasi tabi’in.
d. Jenis Introspeksi yang Lain
Orang tidak menyangka bahwa introspeksi terbatas pada introspeksi terhadap maksiat dan peremehan terhadap bahaya maksiat atau yang sejenis dengannya. Padahal, introspeksi meliputi berbagai hal, sampai pada ketaatan, ketika takut keistiqamahan pada jalan ini terpengaruh dengan perasaan bangga diri yang melupakan pemberi taufik, Allah swt. dan meremehkan orang lain dari kebenaran. Inilah jenis introspeksi yang diungkapkan kepada kita dari Ibrahim bin al-Asy‘ats dari ‘Abidil Haramain (Imam Malik) dalam khalwat (menyendiri) bersama jiwanya.
Wallahu a’alam bish-shawwab.
1. Takut kepada Allah dan Menahan Jiwa dari Maksiat
Allah swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (an-Naazi’aat: 40—41)
Imam Qurthubi menuturkan perkataan Mujahid untuk mengomentari firman Allah pada ayat ini, “Yaitu takutnya di dunia kepada Allah azza wajalla ketika berada di lembah-lembah dosa dan ia terperosok di dalamnya. ‘Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu’, yaitu menahan dari maksiat-maksiat dan hal-hal yang diharamkan.”
Hawa nafsu yang ganas dan keras menutupi fungsi akal dan mengendalikannya. Dibutuhkan kekuatan yang besar untuk menghancurkannya, yang berpusat pada takut kepada Allah, takut dengan terbukanya segala kesalahan di hari kiamat, takut dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Demikianlah bagaimana para tabi’in mendidik jiwa mereka dan mengikutinya dengan takut kepada Allah, bersama dengan itu disertai rajaa` ‘mengharap’ ampunan dan rahmat-Nya. Dan hal itu terealisasi dengan mempelajari ilmu-ilmu tentang akhirat; mulai permasalahan alam kubur sampai masuk tempat akhir: surga atau neraka. Pembelajaran yang terperinci terhadap hal-hal yang berhubungan dengan akhirat membantu untuk menanamkan rasa takut di dalam jiwa.
2. Membentuk Jiwa yang Sabar
Allah swt. berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”(al-Kahfi: 28)
Jiwa asalnya cenderung menyuruh kepada kejahatan, dan di antara karakteristiknya enggan beriltizam dan terikat, tetapi senang berpindah-pindah dan lepas dari kendali, walau kendali itu bermanfaat baginya di akhirat. Jiwa juga tidak suka diperintah seseorang terhadap yang dibencinya, atau membatasi gerakannya. Oleh karenanya, ia memberi kecintaan pada pemiliknya untuk santai dan berleha-leha.
Diriwayatkan dari Imam Basyar al-Hafi r.a., ia berjalan bersama seseorang di jalan, kemudian temannya itu merasa haus, maka ia berkata kepadanya, “Kita minum dari air sumur ini?” Maka Imam Basyar berkata, “Sabarlah sampai sumur yang lain.” Dan ketika mereka sampai di sumur yang dimaksud, Basyar berkata kepadanya lagi, “Nanti sampai sumur yang lain.” Dan ia terus mengulanginya. Kemudian ia menoleh kepada temannya itu dan berkata, “Demikianlah kita memutuskan dunia.”
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari kejadian ini dengan berkata, “Siapa yang memahami keberadaan ini, ia akan mengungkapkan alasan untuk tidak melakukan sesuatu dan berlemah lembut kepadanya, dan menjanjikan yang indah untuk menjadikan kesabaran atas apa yang telah diemban. Sebagaimana beberapa ulama salaf mengatakan kepada jiwanya yang menyuruh kepada yang jahat, ‘Demi Allah aku tidak ingin melarangmu dari yang kamu sukai ini kecuali karena ingin mengendalikan keinginanmu yang buruk.’”
Pengendalian ini merupakan azab Allah ta’ala terhadap hawa nafsu. Dan ini adalah salah satu faktor yang mendorong para sahabat r.a., kemudian para tabi’in untuk memerangi jiwa, dari yang tidak disenangi dengan larangan, terhadap apa yang dikehendaki dan dicintai hawa nafsu.
3. Mengendalikan Nafsu
Nabi saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka ditutupi dengan syahwat-syahwat.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Bukhari, surga seolah menjadi tertutup dengan hijab, dan hijab ini bukan dari kulit atau sutera atau jenis-jenis kain penutup lainnya, tetapi ia terhijab dari hal-hal yang dibenci. Oleh karenanya, itu bukan satu penutup tetapi banyak. Dan hijab yang beragam dengan corak-corak yang beragam, serta warna-warni yang berbeda, karena pada setiap musibah ada warna tersendiri, pada setiap ujian ada corak tersendiri. Maka, tidak mungkin seorang mukmin sampai ke surga, kecuali dengan menyingkap hijab-hijab ini seluruhnya.
Penyingkapan hijab-hijab itu terkadang membutuhkan waktu yang lama. Secara tersendiri, ini adalah usaha “mengendalikan jiwa” yang terkadang melenceng di sepanjang jalan. Dan sulitnya menyingkap hijab-hijab dari hal-hal yang dibenci ini, acap kali mendorong pemiliknya untuk bermalasan dan santai. Ridha terhadap aib yang ada pada jiwa mereka dan atas apa yang diajukan untuk akhirat, tanpa adanya tambahan.
Pengendalian tidak disukai jiwa dan juga tidak selaras dengannya, tetapi kita tidak mempunyai pilihan lain, kecuali melakukan metode ini, jika kita menginginkan barang dagangan Allah yang mahal (surga), walau jiwa kita tidak biasa mengikuti metode ini; sebagaimana jiwa-jiwa generasi pertama dan para tabi’in yang terbiasa pada kebaikan; sebagaimana ditunjukkan Imam yang konsiten, Amirul Mukminin dalam ilmu hadits, Abdullah ibnul Mubarak ketika ia berkata, “Orang-orang saleh pada masa lalu, jiwa mereka selalu mengikuti kebaikan dengan sendirinya, sedangkan jiwa kita hampir selalu mengikuti yang dibenci. Oleh karenanya, kita harus membenci jiwa yang mengajak kepada yang dibenci.”
4. Menjaga dari Sifat Kikir
Allah swt. berfirman, “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)
Imam al-Qurthubi berkata, “Kikir dan bakhil (asy-syukh dan al-bukhl) adalah sama. Beberapa ahli linguistik mengatakan bahwa kikir (asy-syukh) lebih keras daripada bakhil (al-bukhl).” Namun yang benar, “Kikir adalah bakhil dengan sangat tamak. Dan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kikir dengan zakat yang bukan wajib, seperti silaturahmi, menghormati tamu, dan yang sejenis dengan itu. Dan bukan termasuk kikir atau bakhil yang menginfakkan untuk hal itu. Dan barangsiapa yang merasa luas jiwanya dan tidak berinfak terhadap apa yang telah kami tuturkan dari zakat-zakat dan ketaatan-ketaatan tersebut, maka ia tidak dipelihara dari kekikiran.”
Dengan pemahaman yang menyeluruh ini, Imam al-Qurthubi mendefinisikan kikir. Jika demikian, kikir tidak seperti yang dipahami orang-orang bahwasanya kata mereka ia adalah khusus yang diinfakkan manusia pada zakat yang wajib, dan sedekah kepada orang-orang fakir dan miskin serta orang-orang yang membutuhkan, tetapi ia menyeluruh, meliputi infak dalam ketaatan-ketaatan dengan seluruh jenisnya. Dan, yang paling buruk dari jenis ini adalah kekikiran jiwa pada larangannya untuk mengerjakan amal-amal ketaatan yang dapat mendekatkannya menuju surga.
Dan kikir termasuk sifat utama jiwa, yaitu jiwa yang menahan pemiliknya dari segala yang mendekatkan kepada Allah swt. dan yang mengantarkannya ke surga. Juga sebaliknya, ia tidak mencegah pemiliknya untuk memberikan pada syahwat dan hawa nafsu yang menjauhkan dari Allah ta’ala, serta untuk mendekati neraka-Nya. Dan barangsiapa yang mampu melawan dan mengalahkan atas apa yang diinginkan dari keengganan melakukan amal-amal kebaikan, ini akan menyampaikannya kepada rahmat Allah menuju surga dan ia termasuk orang-orang yang menang.
5. Tawakal
Dari Muhammad bin Abi Imran berkata, “Aku mendengar Hatim yang tidak dapat mendengar ditanya seseorang, ‘Dengan apa engkau membangun perkaramu dalam bertawakal kepada Allah?’ Ia berkata, ‘Pada hal-hal berikut: aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh selainku, maka tenanglah jiwaku; Aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh selainku, maka aku sibuk dengannya; Aku tahu kematian pasti mendatangiku kapan saja, maka aku berisap-siap untuk itu; Aku tahu, aku tidak pernah lepas dari pandangan Allah di mana pun aku berada, maka aku malu kepada-Nya jika terlihat sedang melakukan maksiat.’”
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna tawakal. Namun, pendapat mereka semua bermakna menyerahkan segala sesuatu kepada Allah ta’ala dan dengan keyakinan atas kekuasaan-Nya dapat memenuhinya, juga dengan menampakkan sebab-sebab untuk mendapatkan sesuatu yang dimaksud (ikhtiar), serta melepaskan diri dari bergantung pada sebab-sebab itu, dan bergantung pada yang menjadikan sebab-sebab itu, Dialah Allah ta’ala. Empat hal yang dituturkan seorang zahid, Abi Hatim yang tidak dapat mendengar, adalah bukan definisi tawakal, tapi itu adalah dasar budi pekerti yang dibangun ulama dalam hal tawakal.
6. Introspeksi Diri
a. Menghinakan Jiwa yang Menyuruh pada Kejahatan
Introspeksi ini tidak mungkin dimulai tanpa perhatian dan siaga terhadap gerak-gerik jiwa ini. Menghinakannya sebelum dihinakan oleh orang-orang lain dan sebelum mencari aib-aib mereka. Dan, ini adalah pintu masuk untuk mengintrospeksi jiwa yang diperingatkan seorang zahid, ahli ibadah, Abu Sulaiman ad-Darani, ketika ia ditanya Ahmad bin Abil Hiwari: “Fulan dan si fulan tidak berada dalam hatiku (baca: tidak aku sukai).” Ahmad bin Abil Hiwari berkata, “Dan tidak pula pada hatiku. Tetapi semoga kita datang dari hatiku dan hatimu; dan kita tidak mempunyai kebaikan dan bukannya kita tidak mencintai orang-orang saleh.”
b. Musuh yang Bodoh
Kalau Imam ad-Darani memperingatkan Ibnu Abil Hiwari saja, Yahya bin Mu’adz memperingatkan sekelompok pengikutnya dengan keteladanan, di mana ia berkata kepada mereka, ”Di antara kebahagian manusia adalah memberikan pemahaman kepada musuhnya, tapi musuhku tidak mempunyai pemahaman.” Dikatakan kepadanya, “Siapakah musuhmu?” Ia menjawab, “Jiwaku yang menjual surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi dengan syahwat yang hanya sesaat.”
Musuh yang bodoh ini berbahaya bagi jiwa, ketika menghiasi manusia dengan kepalsuan dunia, menghiasi dan mempermudah untuk melakukan syahwat-syhawat, serta meremehkan hakikat suatu kejahatan. Inilah peperangan seorang mukmin dengan jiwanya yang menyuruh berlaku jahat dan yang melupakannya terhadap nikmat-nikmat surga, juga menutup mata kepadanya, dan mengutamakan baginya kenikmatan dunia yang sementara.
c. Selalu Siaga
Ia menghinakan jiwanya dalam setiap keadaan dan tidak meninggalkan tempat bernafas yang ia bisa bernapas di dalamnya. Tidak juga memberi kesempatan untuk berburu di dalamnya dan menutup seluruh sektor-sektor yang luas di mana jiwa dapat berkeliling dan mendapatkan tempat untuk melakukan kejahatan. Namun, generasi sekarang tidak mempunyai kesiagaan seperti generasi tabi’in.
d. Jenis Introspeksi yang Lain
Orang tidak menyangka bahwa introspeksi terbatas pada introspeksi terhadap maksiat dan peremehan terhadap bahaya maksiat atau yang sejenis dengannya. Padahal, introspeksi meliputi berbagai hal, sampai pada ketaatan, ketika takut keistiqamahan pada jalan ini terpengaruh dengan perasaan bangga diri yang melupakan pemberi taufik, Allah swt. dan meremehkan orang lain dari kebenaran. Inilah jenis introspeksi yang diungkapkan kepada kita dari Ibrahim bin al-Asy‘ats dari ‘Abidil Haramain (Imam Malik) dalam khalwat (menyendiri) bersama jiwanya.
Wallahu a’alam bish-shawwab.
ARMAGEDDON : Pertempuran Akhir Zaman
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga, bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, ‘Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!’ Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, ‘Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!’”
Dua hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barangsiapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”
Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14, “Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, ‘Awas!’ Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla’.”
Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun ‘kemuliaan’ yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.
Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina/Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani/Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan.
Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang. Mereka menggambarkan Armageddon sebagai peristiwa jatuhnya meteor raksasa ke bumi. Padahal, hal itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon.
Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon? Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria. Nabi Muhammad saw. Menyebut Peperangan Akhir Zaman ini sebagai Al-Malhamah al-Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan Kuasa Allah untuk membungkam kesombongan orang-orang kafir.
Pada episode akhir zaman nanti, Isa Putra Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rum/Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpulkan di gunung Magiddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan “Hantaman yang Keras” (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam tepat bala tentara Rum dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Yesus) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.
Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum muslimin yang dipimpim oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecambuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.
Tempat Berlangsungnya Armageddon
Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra ‘pertempuran besar yang tidak ada tandingannya’. Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Yerusalem), Tanah Isra dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografis adalah sama, yaitu dalam satu tempat/kawasan di Israel dan8 sekitarnya, meliputi juga Libanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Magiddo, bagian barat Yordania, serta bagian selatan Suriah (dataran tinggi Golan).
Tanda-Tanda Dekatnya ARMAGEDDON
Dari berbagai sumber/literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.
Kembalinya/mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
Memuncaknya kedurhakaan Israel, dengan Ariel menjadi pemimpinnya.
Munculnya gerakan Intifadah (gerakan aksi lempar batu oleh anak-anak Palestina kepada Israel).
Munculnya Imam Mahdi untuk menghentikan kedurhakaan Israel.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, ‘Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!’”
Dua hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barangsiapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”
Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14, “Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, ‘Awas!’ Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla’.”
Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun ‘kemuliaan’ yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.
Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina/Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani/Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan.
Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang. Mereka menggambarkan Armageddon sebagai peristiwa jatuhnya meteor raksasa ke bumi. Padahal, hal itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon.
Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon? Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria. Nabi Muhammad saw. Menyebut Peperangan Akhir Zaman ini sebagai Al-Malhamah al-Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan Kuasa Allah untuk membungkam kesombongan orang-orang kafir.
Pada episode akhir zaman nanti, Isa Putra Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rum/Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpulkan di gunung Magiddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan “Hantaman yang Keras” (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam tepat bala tentara Rum dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Yesus) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.
Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum muslimin yang dipimpim oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecambuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.
Tempat Berlangsungnya Armageddon
Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra ‘pertempuran besar yang tidak ada tandingannya’. Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Yerusalem), Tanah Isra dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografis adalah sama, yaitu dalam satu tempat/kawasan di Israel dan8 sekitarnya, meliputi juga Libanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Magiddo, bagian barat Yordania, serta bagian selatan Suriah (dataran tinggi Golan).
Tanda-Tanda Dekatnya ARMAGEDDON
Dari berbagai sumber/literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.
Kembalinya/mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
Memuncaknya kedurhakaan Israel, dengan Ariel menjadi pemimpinnya.
Munculnya gerakan Intifadah (gerakan aksi lempar batu oleh anak-anak Palestina kepada Israel).
Munculnya Imam Mahdi untuk menghentikan kedurhakaan Israel.
ARMAGEDDON : Pertempuran Akhir Zaman
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga, bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, ‘Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!’ Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, ‘Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!’”
Dua hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barangsiapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”
Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14, “Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, ‘Awas!’ Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla’.”
Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun ‘kemuliaan’ yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.
Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina/Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani/Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan.
Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang. Mereka menggambarkan Armageddon sebagai peristiwa jatuhnya meteor raksasa ke bumi. Padahal, hal itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon.
Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon? Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria. Nabi Muhammad saw. Menyebut Peperangan Akhir Zaman ini sebagai Al-Malhamah al-Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan Kuasa Allah untuk membungkam kesombongan orang-orang kafir.
Pada episode akhir zaman nanti, Isa Putra Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rum/Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpulkan di gunung Magiddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan “Hantaman yang Keras” (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam tepat bala tentara Rum dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Yesus) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.
Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum muslimin yang dipimpim oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecambuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.
Tempat Berlangsungnya Armageddon
Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra ‘pertempuran besar yang tidak ada tandingannya’. Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Yerusalem), Tanah Isra dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografis adalah sama, yaitu dalam satu tempat/kawasan di Israel dan8 sekitarnya, meliputi juga Libanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Magiddo, bagian barat Yordania, serta bagian selatan Suriah (dataran tinggi Golan).
Tanda-Tanda Dekatnya ARMAGEDDON
Dari berbagai sumber/literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.
Kembalinya/mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
Memuncaknya kedurhakaan Israel, dengan Ariel menjadi pemimpinnya.
Munculnya gerakan Intifadah (gerakan aksi lempar batu oleh anak-anak Palestina kepada Israel).
Munculnya Imam Mahdi untuk menghentikan kedurhakaan Israel.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, ‘Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!’”
Dua hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barangsiapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”
Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14, “Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, ‘Awas!’ Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla’.”
Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun ‘kemuliaan’ yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.
Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina/Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani/Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan.
Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang. Mereka menggambarkan Armageddon sebagai peristiwa jatuhnya meteor raksasa ke bumi. Padahal, hal itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon.
Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon? Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria. Nabi Muhammad saw. Menyebut Peperangan Akhir Zaman ini sebagai Al-Malhamah al-Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan Kuasa Allah untuk membungkam kesombongan orang-orang kafir.
Pada episode akhir zaman nanti, Isa Putra Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rum/Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpulkan di gunung Magiddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan “Hantaman yang Keras” (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam tepat bala tentara Rum dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Yesus) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.
Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum muslimin yang dipimpim oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecambuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.
Tempat Berlangsungnya Armageddon
Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra ‘pertempuran besar yang tidak ada tandingannya’. Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Yerusalem), Tanah Isra dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografis adalah sama, yaitu dalam satu tempat/kawasan di Israel dan8 sekitarnya, meliputi juga Libanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Magiddo, bagian barat Yordania, serta bagian selatan Suriah (dataran tinggi Golan).
Tanda-Tanda Dekatnya ARMAGEDDON
Dari berbagai sumber/literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.
Kembalinya/mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
Memuncaknya kedurhakaan Israel, dengan Ariel menjadi pemimpinnya.
Munculnya gerakan Intifadah (gerakan aksi lempar batu oleh anak-anak Palestina kepada Israel).
Munculnya Imam Mahdi untuk menghentikan kedurhakaan Israel.
Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an
Al-Qur`anul Karim telah mempersembahkan kepada kita—dalam rangkaian kisah para nabi dan wali—sekumpulan kisah hewan yang memainkan peran penting dalam sejarah. Ada burung gagak yang diutus Allah kepada anak Nabi Adam untuk memeragakan bagaimana cara menguburkan mayat saudaranya, ada burung merpati yang disembelih Nabi Ibrahim lalu dipisah-pisah di puncak bukit, kemudian burung-burung itu dibangkitkan Allah dari kematian. Ada sapi Bani Israel yang disuruh oleh Nabi Musa untuk disembelih dalam mengungkap sebuah misteri pembunuhan, ada serigala yang dituduh secara zalim telah menerkam Nabi Yusuf, ada hud-hud Nabi Sulaiman yang memberikan informasi tentang Ratu Balqis, ada rayap tanah yang memakan tongkat Nabi Sulaiman ketika beliau meninggal di singgasananya, sehingga beliau jatuh tersungkur ke tanah. Ada keledai Nabi Uzair yang Allah matikan selama seratus tahun kemudian dibangkitkan kembali di hadapan pemiliknya. Ada ikan paus yang menelan Nabi Yunus selama beberapa hari lalu dilemparkannya tubuh sang Nabi ke daratan karena ia termasuk orang yang selalu bertasbih. Ada anjing ashhabul kahfi yang tidur bersama mereka selama tiga ratus sembilan tahun. Ada semut Nabi Sulaiman yang menyeru semut-semut lainnya untuk masuk ke sarang masing-masing agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan balatentaranya sementara mereka tidak menyadarinya. Ada gajah Abrahah yang ditugaskan untuk menghancurkan Ka'bah, kemudian ia dihinggapi rasa takut kepada Allah sehingga ia tidak mau beranjak dari posisinya.
Kisah hewan-hewan itu telah disebutkan di dalam Al-Qur`an bersama kisah-kisah hewan lainnya yang pada lahirnya adalah burung, binatang buas, atau tumbuh-tumbuhan, tapi pada hakikatnya adalah satu tanda dari sekian banyak tanda kebesaran Allah. Seperti tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar, tanah Nabi Isa yang dibuat seperti burung lalu ditiupnya lalu ia berubah menjadi burung sungguhan dengan izin Allah dan burung Ababil yang diutus Allah kepada tentara bergajah lalu melempari mereka dengan batu-batu yang telah dibakar.
Semua kisah ini disebutkan dalam Al-Qur`an. Ada juga kisah hewan yang disebutkan dalam hadits-hadits sahih, seperti laba-laba gua yang membuat sarang di mulut gua tempat Rasulullah saw. bersembunyi.
Kita berada di hadapan kumpulan kerajaan hewan yang memainkan peranan penting dalam kehidupan. Mereka muncul dalam peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut di saat itu saja lalu lenyap ditelan masa. Al-Qur`an hanya menyebutkannya secara selintas, menceritakan satu atau lebih dari peristiwa kehidupannya dalam saat-saat tertentu kemudian sosok mereka tenggelam seiring perjalanan waktu.
Bahasa Para Hewan
Al-Qur`an datang dengan nash-nash yang jelas membuktikan bahwa binatang mempunyai bahasa dan ide-ide tersendiri. Perhatikan apa yang dikatakan seekor semut ketika memperingatkan semut-semut lainnya agar menjauh dari Nabi Sulaiman dan balatentaranya. Seekor semut berkata, ”Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan tentaranya sementara mereka tidak menyadarinya...”
Semut itu tidak tahu kalau Sulaiman mengerti bahasanya. Ia tidak mengetahui kalau Sulaiman mendengarkannya ketika ia menyangka bahwa tentara Sulaiman akan membinasakan para semut tanpa sadar.
Semut itu menggunakan dalam ungkapannya kata-kata “menyadari”. Ini sebuah bukti bahwa perasaan adalah sesuatu yang juga dikenal oleh para semut, karena kalau tidak, bagaimana mungkin ia menggunakan dalam bahasanya sesuatu yang tidak ia kenal atau ketahui?
Lalu, coba perhatikan perbincangan antara hud-hud dengan Sulaiman.
Hud-hud telah menyatakan pada Sulaiman sesuatu yang belum pernah diucapkan oleh filsuf manusia terbesar sekalipun di muka bumi ini. Hud-hud tidak heran melihat kaum Saba` sujud pada matahari padahal matahari itu telah ditundukkan untuk mereka, lalu ia bertanya pada Sulaiman penuh heran mengapa mereka tidak bersujud kepada Allah yang telah mengeluarkan biji-bijian di langit dan di bumi.
Apa yang diungkapkan oleh Al-Qur`an empat belas abad silam ini, yakni ilmu senantiasa berusaha mengungkap bagian dari rahasia-rahasianya, adalah sebuah mukjizat yang membuktikan bahwa Al-Qur`an adalah wahyu dari Allah. Sebagaimana ia juga membuktikan bahwa kaum muslimin terdahulu mempunyai iman yang sangat kokoh dan dalam karena pemikiran yang berkembang pada masa mereka adalah binatang tidak bisa berbicara, merasakan, menyadari dan memahami, kemudian Al-Qur`an datang mengatakan sebaliknya tapi mereka tetap beriman dan tidak ragu. Mereka langsung memercayai semua itu tanpa perlu meminta bukti ilmiah atau membahasnya lebih lanjut.
Hikmah Dari Kisah Hewan
Buku ini pada asalnya adalah buku seni dan pola utamanya adalah seni dalam arti kreasi, daya khayal, dan inovasi. Namun pola utama ini berbaur dengan dua pola lainnya, yaitu pola agama dan ilmu.
Pola agama akan tampak pada kisah nabi, yakni binatang menjadi pelayannya. Bagian ini diambil dari Al-Qur`an -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- dibantu dengan tafsir Al-Qur`an karya ahli tafsir besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya', Tafsir al-Qurthubi, dan Tafsir al-Manaar. Penulis berusaha komitmen dengan kejadian-kejadian sesungguhnya dalam setiap kisah seperti terdapat dalam tafsir yang paling kuat, dan aku tidak melenceng dari itu.
Pola ilmu akan tampak dalam tabiat dan kebiasaan-kebiasaan para binatang yang diambil dari ensiklopedia ilmiah. Dalam menulis kisah-kisah ini penulis selalu berusaha untuk tidak terlalu bebas di dalam dua pola tersebut.
Adapun pola utama dalam buku ini (pola seni), penulis bergerak sebebas-bebasnya, mengingat seni telah memberikan kebebasan tanpa batas pada daya khayal. Begitulah, penulis mengolok-olok kezaliman seorang manusia terhadap saudaranya sesama manusia dengan ungkapan yang diinginkan penulis dan penulis membuat nama-nama binatang dalam kisah ini serta membayangkan peristiwa-peristiwa hidupnya sebelum bergabung dalam melayani sang nabi. Dalam hal ini penulis tidak terikat kecuali dalam tataran seni semata.
Buku Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an ini awalnya dimuat dalam kolom agama pada harian al-Ahram. Penulis memutuskan kish kumpulan hewan ini untuk menjadi 'tamu' dalam kolom itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah tapi sesuatu yang menyenangkan. Kisah Hewan yang ditulis adalah kisah serigala Nabi Yusuf. Kolom yang terbatas menjadi penghalang untuk memuat kisah secara utuh.
Setelah itu, majalah 'al-Mukhtar al-Islami meminta untuk menyebarkan kumpulan kisah ini dalam bentuk buku. Penulis kembali mengasingkan diri untuk menyempurnakan kisah-kisah ini. Akhirnya buku itu pun didistribusikan untuk dijual hingga dicetak ulang dua kali.
Kisah-kisah penuh hikmah ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Nyonya Nafisah al-Baqly disiapkan untuk disajikan dalam program bahasa Eropa di radio siaran Mesir. Akhirnya episode-episode kisah ini menjadi pertukaran produksi dengan radio Perancis dan 'terbanglah' kisah-kisah ini ke Paris untuk disiarkan di Radio Perancis.
Sepanjang waktu itu Penulis menyadari bahwa ada kerja yang telah dimulai tapi belum disempurnakan. Penulis belum menulis kisah-kisah hewan lainnya. Penulis bermaksud untuk menyempurnakan dan menyebarkannya dalam buku berwarna disertai gambar-gambar.
Selama masa menulis, Penulis merasakan bahwa lembaran kehidupan hewan dan makhluk-makhluk ini telah lama ditutup. Tapi penulis yakin bahwa tidak ada yang akan lenyap, tidak kata-kata, perasaan, bayangan, atau peristiwa. Semuanya akan tetap tersimpan dalam jantung dan memori alam. Semua akan berubah menjadi rahasia alam. Memang, menemukan sebuah rahasia adalah sulit tapi penulis mengakui bahwa apa yang dialami untuk menyingkap tabir rahasia-rahasia itu sangat menyenangkan. Penulis telah menuliskan Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an tersebut dan kini hikmah dan ibroh tersebut telah siap untuk kita reguk. Maka bacalah!
Kisah hewan-hewan itu telah disebutkan di dalam Al-Qur`an bersama kisah-kisah hewan lainnya yang pada lahirnya adalah burung, binatang buas, atau tumbuh-tumbuhan, tapi pada hakikatnya adalah satu tanda dari sekian banyak tanda kebesaran Allah. Seperti tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar, tanah Nabi Isa yang dibuat seperti burung lalu ditiupnya lalu ia berubah menjadi burung sungguhan dengan izin Allah dan burung Ababil yang diutus Allah kepada tentara bergajah lalu melempari mereka dengan batu-batu yang telah dibakar.
Semua kisah ini disebutkan dalam Al-Qur`an. Ada juga kisah hewan yang disebutkan dalam hadits-hadits sahih, seperti laba-laba gua yang membuat sarang di mulut gua tempat Rasulullah saw. bersembunyi.
Kita berada di hadapan kumpulan kerajaan hewan yang memainkan peranan penting dalam kehidupan. Mereka muncul dalam peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut di saat itu saja lalu lenyap ditelan masa. Al-Qur`an hanya menyebutkannya secara selintas, menceritakan satu atau lebih dari peristiwa kehidupannya dalam saat-saat tertentu kemudian sosok mereka tenggelam seiring perjalanan waktu.
Bahasa Para Hewan
Al-Qur`an datang dengan nash-nash yang jelas membuktikan bahwa binatang mempunyai bahasa dan ide-ide tersendiri. Perhatikan apa yang dikatakan seekor semut ketika memperingatkan semut-semut lainnya agar menjauh dari Nabi Sulaiman dan balatentaranya. Seekor semut berkata, ”Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan tentaranya sementara mereka tidak menyadarinya...”
Semut itu tidak tahu kalau Sulaiman mengerti bahasanya. Ia tidak mengetahui kalau Sulaiman mendengarkannya ketika ia menyangka bahwa tentara Sulaiman akan membinasakan para semut tanpa sadar.
Semut itu menggunakan dalam ungkapannya kata-kata “menyadari”. Ini sebuah bukti bahwa perasaan adalah sesuatu yang juga dikenal oleh para semut, karena kalau tidak, bagaimana mungkin ia menggunakan dalam bahasanya sesuatu yang tidak ia kenal atau ketahui?
Lalu, coba perhatikan perbincangan antara hud-hud dengan Sulaiman.
Hud-hud telah menyatakan pada Sulaiman sesuatu yang belum pernah diucapkan oleh filsuf manusia terbesar sekalipun di muka bumi ini. Hud-hud tidak heran melihat kaum Saba` sujud pada matahari padahal matahari itu telah ditundukkan untuk mereka, lalu ia bertanya pada Sulaiman penuh heran mengapa mereka tidak bersujud kepada Allah yang telah mengeluarkan biji-bijian di langit dan di bumi.
Apa yang diungkapkan oleh Al-Qur`an empat belas abad silam ini, yakni ilmu senantiasa berusaha mengungkap bagian dari rahasia-rahasianya, adalah sebuah mukjizat yang membuktikan bahwa Al-Qur`an adalah wahyu dari Allah. Sebagaimana ia juga membuktikan bahwa kaum muslimin terdahulu mempunyai iman yang sangat kokoh dan dalam karena pemikiran yang berkembang pada masa mereka adalah binatang tidak bisa berbicara, merasakan, menyadari dan memahami, kemudian Al-Qur`an datang mengatakan sebaliknya tapi mereka tetap beriman dan tidak ragu. Mereka langsung memercayai semua itu tanpa perlu meminta bukti ilmiah atau membahasnya lebih lanjut.
Hikmah Dari Kisah Hewan
Buku ini pada asalnya adalah buku seni dan pola utamanya adalah seni dalam arti kreasi, daya khayal, dan inovasi. Namun pola utama ini berbaur dengan dua pola lainnya, yaitu pola agama dan ilmu.
Pola agama akan tampak pada kisah nabi, yakni binatang menjadi pelayannya. Bagian ini diambil dari Al-Qur`an -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- dibantu dengan tafsir Al-Qur`an karya ahli tafsir besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya', Tafsir al-Qurthubi, dan Tafsir al-Manaar. Penulis berusaha komitmen dengan kejadian-kejadian sesungguhnya dalam setiap kisah seperti terdapat dalam tafsir yang paling kuat, dan aku tidak melenceng dari itu.
Pola ilmu akan tampak dalam tabiat dan kebiasaan-kebiasaan para binatang yang diambil dari ensiklopedia ilmiah. Dalam menulis kisah-kisah ini penulis selalu berusaha untuk tidak terlalu bebas di dalam dua pola tersebut.
Adapun pola utama dalam buku ini (pola seni), penulis bergerak sebebas-bebasnya, mengingat seni telah memberikan kebebasan tanpa batas pada daya khayal. Begitulah, penulis mengolok-olok kezaliman seorang manusia terhadap saudaranya sesama manusia dengan ungkapan yang diinginkan penulis dan penulis membuat nama-nama binatang dalam kisah ini serta membayangkan peristiwa-peristiwa hidupnya sebelum bergabung dalam melayani sang nabi. Dalam hal ini penulis tidak terikat kecuali dalam tataran seni semata.
Buku Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an ini awalnya dimuat dalam kolom agama pada harian al-Ahram. Penulis memutuskan kish kumpulan hewan ini untuk menjadi 'tamu' dalam kolom itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah tapi sesuatu yang menyenangkan. Kisah Hewan yang ditulis adalah kisah serigala Nabi Yusuf. Kolom yang terbatas menjadi penghalang untuk memuat kisah secara utuh.
Setelah itu, majalah 'al-Mukhtar al-Islami meminta untuk menyebarkan kumpulan kisah ini dalam bentuk buku. Penulis kembali mengasingkan diri untuk menyempurnakan kisah-kisah ini. Akhirnya buku itu pun didistribusikan untuk dijual hingga dicetak ulang dua kali.
Kisah-kisah penuh hikmah ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Nyonya Nafisah al-Baqly disiapkan untuk disajikan dalam program bahasa Eropa di radio siaran Mesir. Akhirnya episode-episode kisah ini menjadi pertukaran produksi dengan radio Perancis dan 'terbanglah' kisah-kisah ini ke Paris untuk disiarkan di Radio Perancis.
Sepanjang waktu itu Penulis menyadari bahwa ada kerja yang telah dimulai tapi belum disempurnakan. Penulis belum menulis kisah-kisah hewan lainnya. Penulis bermaksud untuk menyempurnakan dan menyebarkannya dalam buku berwarna disertai gambar-gambar.
Selama masa menulis, Penulis merasakan bahwa lembaran kehidupan hewan dan makhluk-makhluk ini telah lama ditutup. Tapi penulis yakin bahwa tidak ada yang akan lenyap, tidak kata-kata, perasaan, bayangan, atau peristiwa. Semuanya akan tetap tersimpan dalam jantung dan memori alam. Semua akan berubah menjadi rahasia alam. Memang, menemukan sebuah rahasia adalah sulit tapi penulis mengakui bahwa apa yang dialami untuk menyingkap tabir rahasia-rahasia itu sangat menyenangkan. Penulis telah menuliskan Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an tersebut dan kini hikmah dan ibroh tersebut telah siap untuk kita reguk. Maka bacalah!
Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an
Al-Qur`anul Karim telah mempersembahkan kepada kita—dalam rangkaian kisah para nabi dan wali—sekumpulan kisah hewan yang memainkan peran penting dalam sejarah. Ada burung gagak yang diutus Allah kepada anak Nabi Adam untuk memeragakan bagaimana cara menguburkan mayat saudaranya, ada burung merpati yang disembelih Nabi Ibrahim lalu dipisah-pisah di puncak bukit, kemudian burung-burung itu dibangkitkan Allah dari kematian. Ada sapi Bani Israel yang disuruh oleh Nabi Musa untuk disembelih dalam mengungkap sebuah misteri pembunuhan, ada serigala yang dituduh secara zalim telah menerkam Nabi Yusuf, ada hud-hud Nabi Sulaiman yang memberikan informasi tentang Ratu Balqis, ada rayap tanah yang memakan tongkat Nabi Sulaiman ketika beliau meninggal di singgasananya, sehingga beliau jatuh tersungkur ke tanah. Ada keledai Nabi Uzair yang Allah matikan selama seratus tahun kemudian dibangkitkan kembali di hadapan pemiliknya. Ada ikan paus yang menelan Nabi Yunus selama beberapa hari lalu dilemparkannya tubuh sang Nabi ke daratan karena ia termasuk orang yang selalu bertasbih. Ada anjing ashhabul kahfi yang tidur bersama mereka selama tiga ratus sembilan tahun. Ada semut Nabi Sulaiman yang menyeru semut-semut lainnya untuk masuk ke sarang masing-masing agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan balatentaranya sementara mereka tidak menyadarinya. Ada gajah Abrahah yang ditugaskan untuk menghancurkan Ka'bah, kemudian ia dihinggapi rasa takut kepada Allah sehingga ia tidak mau beranjak dari posisinya.
Kisah hewan-hewan itu telah disebutkan di dalam Al-Qur`an bersama kisah-kisah hewan lainnya yang pada lahirnya adalah burung, binatang buas, atau tumbuh-tumbuhan, tapi pada hakikatnya adalah satu tanda dari sekian banyak tanda kebesaran Allah. Seperti tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar, tanah Nabi Isa yang dibuat seperti burung lalu ditiupnya lalu ia berubah menjadi burung sungguhan dengan izin Allah dan burung Ababil yang diutus Allah kepada tentara bergajah lalu melempari mereka dengan batu-batu yang telah dibakar.
Semua kisah ini disebutkan dalam Al-Qur`an. Ada juga kisah hewan yang disebutkan dalam hadits-hadits sahih, seperti laba-laba gua yang membuat sarang di mulut gua tempat Rasulullah saw. bersembunyi.
Kita berada di hadapan kumpulan kerajaan hewan yang memainkan peranan penting dalam kehidupan. Mereka muncul dalam peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut di saat itu saja lalu lenyap ditelan masa. Al-Qur`an hanya menyebutkannya secara selintas, menceritakan satu atau lebih dari peristiwa kehidupannya dalam saat-saat tertentu kemudian sosok mereka tenggelam seiring perjalanan waktu.
Bahasa Para Hewan
Al-Qur`an datang dengan nash-nash yang jelas membuktikan bahwa binatang mempunyai bahasa dan ide-ide tersendiri. Perhatikan apa yang dikatakan seekor semut ketika memperingatkan semut-semut lainnya agar menjauh dari Nabi Sulaiman dan balatentaranya. Seekor semut berkata, ”Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan tentaranya sementara mereka tidak menyadarinya...”
Semut itu tidak tahu kalau Sulaiman mengerti bahasanya. Ia tidak mengetahui kalau Sulaiman mendengarkannya ketika ia menyangka bahwa tentara Sulaiman akan membinasakan para semut tanpa sadar.
Semut itu menggunakan dalam ungkapannya kata-kata “menyadari”. Ini sebuah bukti bahwa perasaan adalah sesuatu yang juga dikenal oleh para semut, karena kalau tidak, bagaimana mungkin ia menggunakan dalam bahasanya sesuatu yang tidak ia kenal atau ketahui?
Lalu, coba perhatikan perbincangan antara hud-hud dengan Sulaiman.
Hud-hud telah menyatakan pada Sulaiman sesuatu yang belum pernah diucapkan oleh filsuf manusia terbesar sekalipun di muka bumi ini. Hud-hud tidak heran melihat kaum Saba` sujud pada matahari padahal matahari itu telah ditundukkan untuk mereka, lalu ia bertanya pada Sulaiman penuh heran mengapa mereka tidak bersujud kepada Allah yang telah mengeluarkan biji-bijian di langit dan di bumi.
Apa yang diungkapkan oleh Al-Qur`an empat belas abad silam ini, yakni ilmu senantiasa berusaha mengungkap bagian dari rahasia-rahasianya, adalah sebuah mukjizat yang membuktikan bahwa Al-Qur`an adalah wahyu dari Allah. Sebagaimana ia juga membuktikan bahwa kaum muslimin terdahulu mempunyai iman yang sangat kokoh dan dalam karena pemikiran yang berkembang pada masa mereka adalah binatang tidak bisa berbicara, merasakan, menyadari dan memahami, kemudian Al-Qur`an datang mengatakan sebaliknya tapi mereka tetap beriman dan tidak ragu. Mereka langsung memercayai semua itu tanpa perlu meminta bukti ilmiah atau membahasnya lebih lanjut.
Hikmah Dari Kisah Hewan
Buku ini pada asalnya adalah buku seni dan pola utamanya adalah seni dalam arti kreasi, daya khayal, dan inovasi. Namun pola utama ini berbaur dengan dua pola lainnya, yaitu pola agama dan ilmu.
Pola agama akan tampak pada kisah nabi, yakni binatang menjadi pelayannya. Bagian ini diambil dari Al-Qur`an -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- dibantu dengan tafsir Al-Qur`an karya ahli tafsir besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya', Tafsir al-Qurthubi, dan Tafsir al-Manaar. Penulis berusaha komitmen dengan kejadian-kejadian sesungguhnya dalam setiap kisah seperti terdapat dalam tafsir yang paling kuat, dan aku tidak melenceng dari itu.
Pola ilmu akan tampak dalam tabiat dan kebiasaan-kebiasaan para binatang yang diambil dari ensiklopedia ilmiah. Dalam menulis kisah-kisah ini penulis selalu berusaha untuk tidak terlalu bebas di dalam dua pola tersebut.
Adapun pola utama dalam buku ini (pola seni), penulis bergerak sebebas-bebasnya, mengingat seni telah memberikan kebebasan tanpa batas pada daya khayal. Begitulah, penulis mengolok-olok kezaliman seorang manusia terhadap saudaranya sesama manusia dengan ungkapan yang diinginkan penulis dan penulis membuat nama-nama binatang dalam kisah ini serta membayangkan peristiwa-peristiwa hidupnya sebelum bergabung dalam melayani sang nabi. Dalam hal ini penulis tidak terikat kecuali dalam tataran seni semata.
Buku Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an ini awalnya dimuat dalam kolom agama pada harian al-Ahram. Penulis memutuskan kish kumpulan hewan ini untuk menjadi 'tamu' dalam kolom itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah tapi sesuatu yang menyenangkan. Kisah Hewan yang ditulis adalah kisah serigala Nabi Yusuf. Kolom yang terbatas menjadi penghalang untuk memuat kisah secara utuh.
Setelah itu, majalah 'al-Mukhtar al-Islami meminta untuk menyebarkan kumpulan kisah ini dalam bentuk buku. Penulis kembali mengasingkan diri untuk menyempurnakan kisah-kisah ini. Akhirnya buku itu pun didistribusikan untuk dijual hingga dicetak ulang dua kali.
Kisah-kisah penuh hikmah ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Nyonya Nafisah al-Baqly disiapkan untuk disajikan dalam program bahasa Eropa di radio siaran Mesir. Akhirnya episode-episode kisah ini menjadi pertukaran produksi dengan radio Perancis dan 'terbanglah' kisah-kisah ini ke Paris untuk disiarkan di Radio Perancis.
Sepanjang waktu itu Penulis menyadari bahwa ada kerja yang telah dimulai tapi belum disempurnakan. Penulis belum menulis kisah-kisah hewan lainnya. Penulis bermaksud untuk menyempurnakan dan menyebarkannya dalam buku berwarna disertai gambar-gambar.
Selama masa menulis, Penulis merasakan bahwa lembaran kehidupan hewan dan makhluk-makhluk ini telah lama ditutup. Tapi penulis yakin bahwa tidak ada yang akan lenyap, tidak kata-kata, perasaan, bayangan, atau peristiwa. Semuanya akan tetap tersimpan dalam jantung dan memori alam. Semua akan berubah menjadi rahasia alam. Memang, menemukan sebuah rahasia adalah sulit tapi penulis mengakui bahwa apa yang dialami untuk menyingkap tabir rahasia-rahasia itu sangat menyenangkan. Penulis telah menuliskan Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an tersebut dan kini hikmah dan ibroh tersebut telah siap untuk kita reguk. Maka bacalah!
Kisah hewan-hewan itu telah disebutkan di dalam Al-Qur`an bersama kisah-kisah hewan lainnya yang pada lahirnya adalah burung, binatang buas, atau tumbuh-tumbuhan, tapi pada hakikatnya adalah satu tanda dari sekian banyak tanda kebesaran Allah. Seperti tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar, tanah Nabi Isa yang dibuat seperti burung lalu ditiupnya lalu ia berubah menjadi burung sungguhan dengan izin Allah dan burung Ababil yang diutus Allah kepada tentara bergajah lalu melempari mereka dengan batu-batu yang telah dibakar.
Semua kisah ini disebutkan dalam Al-Qur`an. Ada juga kisah hewan yang disebutkan dalam hadits-hadits sahih, seperti laba-laba gua yang membuat sarang di mulut gua tempat Rasulullah saw. bersembunyi.
Kita berada di hadapan kumpulan kerajaan hewan yang memainkan peranan penting dalam kehidupan. Mereka muncul dalam peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut di saat itu saja lalu lenyap ditelan masa. Al-Qur`an hanya menyebutkannya secara selintas, menceritakan satu atau lebih dari peristiwa kehidupannya dalam saat-saat tertentu kemudian sosok mereka tenggelam seiring perjalanan waktu.
Bahasa Para Hewan
Al-Qur`an datang dengan nash-nash yang jelas membuktikan bahwa binatang mempunyai bahasa dan ide-ide tersendiri. Perhatikan apa yang dikatakan seekor semut ketika memperingatkan semut-semut lainnya agar menjauh dari Nabi Sulaiman dan balatentaranya. Seekor semut berkata, ”Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar tidak dimusnahkan oleh Sulaiman dan tentaranya sementara mereka tidak menyadarinya...”
Semut itu tidak tahu kalau Sulaiman mengerti bahasanya. Ia tidak mengetahui kalau Sulaiman mendengarkannya ketika ia menyangka bahwa tentara Sulaiman akan membinasakan para semut tanpa sadar.
Semut itu menggunakan dalam ungkapannya kata-kata “menyadari”. Ini sebuah bukti bahwa perasaan adalah sesuatu yang juga dikenal oleh para semut, karena kalau tidak, bagaimana mungkin ia menggunakan dalam bahasanya sesuatu yang tidak ia kenal atau ketahui?
Lalu, coba perhatikan perbincangan antara hud-hud dengan Sulaiman.
Hud-hud telah menyatakan pada Sulaiman sesuatu yang belum pernah diucapkan oleh filsuf manusia terbesar sekalipun di muka bumi ini. Hud-hud tidak heran melihat kaum Saba` sujud pada matahari padahal matahari itu telah ditundukkan untuk mereka, lalu ia bertanya pada Sulaiman penuh heran mengapa mereka tidak bersujud kepada Allah yang telah mengeluarkan biji-bijian di langit dan di bumi.
Apa yang diungkapkan oleh Al-Qur`an empat belas abad silam ini, yakni ilmu senantiasa berusaha mengungkap bagian dari rahasia-rahasianya, adalah sebuah mukjizat yang membuktikan bahwa Al-Qur`an adalah wahyu dari Allah. Sebagaimana ia juga membuktikan bahwa kaum muslimin terdahulu mempunyai iman yang sangat kokoh dan dalam karena pemikiran yang berkembang pada masa mereka adalah binatang tidak bisa berbicara, merasakan, menyadari dan memahami, kemudian Al-Qur`an datang mengatakan sebaliknya tapi mereka tetap beriman dan tidak ragu. Mereka langsung memercayai semua itu tanpa perlu meminta bukti ilmiah atau membahasnya lebih lanjut.
Hikmah Dari Kisah Hewan
Buku ini pada asalnya adalah buku seni dan pola utamanya adalah seni dalam arti kreasi, daya khayal, dan inovasi. Namun pola utama ini berbaur dengan dua pola lainnya, yaitu pola agama dan ilmu.
Pola agama akan tampak pada kisah nabi, yakni binatang menjadi pelayannya. Bagian ini diambil dari Al-Qur`an -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- dibantu dengan tafsir Al-Qur`an karya ahli tafsir besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya', Tafsir al-Qurthubi, dan Tafsir al-Manaar. Penulis berusaha komitmen dengan kejadian-kejadian sesungguhnya dalam setiap kisah seperti terdapat dalam tafsir yang paling kuat, dan aku tidak melenceng dari itu.
Pola ilmu akan tampak dalam tabiat dan kebiasaan-kebiasaan para binatang yang diambil dari ensiklopedia ilmiah. Dalam menulis kisah-kisah ini penulis selalu berusaha untuk tidak terlalu bebas di dalam dua pola tersebut.
Adapun pola utama dalam buku ini (pola seni), penulis bergerak sebebas-bebasnya, mengingat seni telah memberikan kebebasan tanpa batas pada daya khayal. Begitulah, penulis mengolok-olok kezaliman seorang manusia terhadap saudaranya sesama manusia dengan ungkapan yang diinginkan penulis dan penulis membuat nama-nama binatang dalam kisah ini serta membayangkan peristiwa-peristiwa hidupnya sebelum bergabung dalam melayani sang nabi. Dalam hal ini penulis tidak terikat kecuali dalam tataran seni semata.
Buku Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an ini awalnya dimuat dalam kolom agama pada harian al-Ahram. Penulis memutuskan kish kumpulan hewan ini untuk menjadi 'tamu' dalam kolom itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah tapi sesuatu yang menyenangkan. Kisah Hewan yang ditulis adalah kisah serigala Nabi Yusuf. Kolom yang terbatas menjadi penghalang untuk memuat kisah secara utuh.
Setelah itu, majalah 'al-Mukhtar al-Islami meminta untuk menyebarkan kumpulan kisah ini dalam bentuk buku. Penulis kembali mengasingkan diri untuk menyempurnakan kisah-kisah ini. Akhirnya buku itu pun didistribusikan untuk dijual hingga dicetak ulang dua kali.
Kisah-kisah penuh hikmah ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Nyonya Nafisah al-Baqly disiapkan untuk disajikan dalam program bahasa Eropa di radio siaran Mesir. Akhirnya episode-episode kisah ini menjadi pertukaran produksi dengan radio Perancis dan 'terbanglah' kisah-kisah ini ke Paris untuk disiarkan di Radio Perancis.
Sepanjang waktu itu Penulis menyadari bahwa ada kerja yang telah dimulai tapi belum disempurnakan. Penulis belum menulis kisah-kisah hewan lainnya. Penulis bermaksud untuk menyempurnakan dan menyebarkannya dalam buku berwarna disertai gambar-gambar.
Selama masa menulis, Penulis merasakan bahwa lembaran kehidupan hewan dan makhluk-makhluk ini telah lama ditutup. Tapi penulis yakin bahwa tidak ada yang akan lenyap, tidak kata-kata, perasaan, bayangan, atau peristiwa. Semuanya akan tetap tersimpan dalam jantung dan memori alam. Semua akan berubah menjadi rahasia alam. Memang, menemukan sebuah rahasia adalah sulit tapi penulis mengakui bahwa apa yang dialami untuk menyingkap tabir rahasia-rahasia itu sangat menyenangkan. Penulis telah menuliskan Kisah-Kisah Hewan Dalam Al Qur’an tersebut dan kini hikmah dan ibroh tersebut telah siap untuk kita reguk. Maka bacalah!
Langganan:
Postingan (Atom)